Diriku Apa Adanya
- Ade Chandra
- Indonesia
- Only new-born human to develop potencies optimum 100% and to give multi-purposes internationally
Kamis, Agustus 21, 2008
Engkaulah Bidadari Sejati Itu
Dari Riwayat Sahabat Rasul
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…
Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”
Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.” Zulebid tersenyum.
Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya… .Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “ Dan hanya engkau kubiarkan yang tercantik di hatiku.
Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
MC, 21 Agustus 2008
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…
Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”
Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.” Zulebid tersenyum.
Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya… .Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “ Dan hanya engkau kubiarkan yang tercantik di hatiku.
Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
MC, 21 Agustus 2008
Kamis, Agustus 14, 2008
MENCARI PEMIMPIN SEJATI
Oleh: Ade Chandra
Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia (IIUM), berdomisili di Pekanbaru, Riau.
Kepemimpinan bukanlah sebuah bakat, tapi kepemimpinan dapat diciptakan oleh lingkungan dan masyarakatnya.
Betapa tidak, sejak dimulainya pemilihan secara langsung pasangan presiden dan wakil presiden oleh rakyat Indonesia maka kini terus bergulir pemilihan pemimpin model tersebut diberbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bahkan pelaksanaannya juga telah sampai ke tingkat RT.
Namun setelah pemimpin baru banyak yang harus meringkuk di jeruji besi karena terbukti korupsi atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Walau adakalanya kejahatan itu dilakukan sebelum terpilih memimpin rakyat didaerahnya.
Tentu hal ini merugikan bangsa dan rakyat. Karena miliaran bahkan triliunan dana terbuang hanya untuk memilih penjahat berkedok pemimpin. Bagaikan membeli kucing dalam karung.
Semestinya, calon pemimpin yang diusung partai politik tertentu beserta rakyat harus mengetahui track-record nya. Utama sekali bagi tim suksesnya. Makanya perlu kriteria-kriteria untuk menjaring calon pemimpin terbaik.
Dalam buku Modern Management, Certo (2006) menuturkan beberapa kriteria kepemimpinan hari ini, yaitu: (1)visionary, dengan memiliki kekuatan ide-ide asli untuk masa depan menuju perbaikan dan peningkatan, (2)passionate dengan bentuk kekuatan keyakinan yang dalam, (3)creative untuk menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, (4)flexible dengan mampu merubah keadaan dan kondisi berbeda-beda menjadi lebih baik, (5)inspirational sehingga orang-orang disekitarnya tergerak untuk melakukan prilaku-prilaku positif, (6)innovative dalam ide dan mengatasi berbagai persoalan, (7)courageous atau berani berkorban untuk kebaikan, (8)imaginative dalam berpikir, membuat sesuatu yang baru dan bermanfaat, (9)experimental dengan membuat dan memodifikasi sesuatu yang tidak berguna menjadi bermanfaat dan (10)independent dalam berpikir dan berbuat tanpa terpengaruh oleh apapun.
Selain itu, pemimpin perlu memiliki komitmen kebaikan dan kebermanfaatan. Hermawan Kartajaya menerangkan konsep progression of commitment value dengan empat tingkatan komitmen secara berurutan, mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dengan memberikan komitmen secara terpaksa sesuai apa yang diinginkan organisasinya. Tingkatan selanjutnya intellectual commitment dengan menjalankan komitmen untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya.
Selanjutnya emotional commitment yang dilakukan sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment dengan komitmen kerja dilakukan karena sudah menjadi panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Sedangkan dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin utamanya dipilih dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Yang tidak akan pernah curang dan berbuat zalim sekecil apapun kepada rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Karena dia tahu bahwa pengawas utamanya langsung dari sang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Yang tidak pernah tidur dan tidak pernah merasa lelah. Bisa saja pemimpin mengelabui seluruh manusia yang dipimpinnya, tapi ingat bahwa perkara tersembunyi dan tidak tuntas didunia ini, maka urusan tersebut pertanggungjawabannya nanti akan dituntaskan pada pengadilan sang Maha Adil, Allah, Penguasa alam semesta.
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qur’an surat Al Qiyamah ayat 36)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 18)
Kepemimpinan seyogyanya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta agar mendapat keberuntungan. Sebagai mana disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (surat Al Ma’idah ayat 35).
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (surat Al Ankabut ayat 69).
Selain itu, kepemimpinan tidak boleh dicari apalagi memintanya. Karena pertanggungjawaban kepemimpinan sunggguh berat di Hari Pembalasan nantinya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, banyak kisah-kisah kepemimpinan yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pemimpin atau calon pemimpin.
Kisah fenomenal adalah kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Hanya dalam waktu kepemimpinan 2,5 tahun, beliau mampu mensejahterakan rakyatnya baik Muslim maupun non-muslim. Saat itu, orang-orang yang mau menyalurkan zakatnya seharian penuh berkeliling tapi tidak ada yang mau menerimanya. Karena masyarakat merasa hidup berkecukupan sehingga tidak pantas menerima zakat.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi umat Islam seluruh dunia pada saat itu, beliau termasuk orang yang kaya. Namun, ketika diangkat menjadi pemimpin, beliau segera menyalurkan seluruh hartanya ke kas negara. Yang tersisa hanya tinggal baju dibadan. Beliau juga minta diberikan gaji hanya 2 dirham sehari, yang nilainya dapat memenuhi kebutuhan makan pada hari itu juga.
Beliau juga minta kepada istrinya untuk memilih apakah tetap bersamanya dalam kondisi seperti ini atau pergi meninggalkannya secara baik-baik dengan perceraian. Beliau takut, istrinya tidak tahan dan mempengaruhi beliau kearah keburukan dan kejahatan dalam menjalankan tugas besar sebagai pemimpin umat. Istrinya menangis mendengar penyampaian seperti itu dan berkata: ”wahai suamiku, justru dalam kondisi seperti ini diriku harus berada disampingmu.”
Kepemimpinan hari ini
Kalau dibandingkan dengan pemimpin hari ini, justru kekayaannya bertambah setelah menjadi pemimpin sedangkan rakyatnya makin sengsara. Pemimpin bergelimang fasilitas sedang fasilitas rakyat dikurangi bahkan dihilangkan. Fasilitas negara dijadikan fasilitas pribadi. Rakyat diminta hidup hemat sedang pemimpin berfoya-foya bersama istri, anak, keluarga dan kroni-kroninya.
Kondisi kepemimpinan seperti ini menjadikan rakyat terzalimi. Rakyat kelaparan ditengah daerah yang kaya. Ibarat ayam mati dilumbung padi. Akibatnya, silih berganti bencana menimpa pemimpin dan daerahnya. Sehingga membuat pemimpin “pusing”, walau kadang pusing menikmati bantuan dibalik bencana.
Keberhasilan kepemimpinan dilihat diatas kertas saja melalui data-data statistik. Tanpa mau membuka mata, hati dan telinga pada rakyat disekelilingnya. Padahal banyak tetangga disamping rumah pemimpin menderita busung lapar, sulit mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Al Qur’an menerangkan dalam surat Al A’raf ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Tentu tak ada yang menginginkan pemimpin yang hanya berani menjual kekayaan negara dan daerahnya hanya dengan alasan memenuhi kekurangan anggaran “bang-saku”. Dengan alasan privatisasi dan meningkatkan kinerja. Menguras tanah dan air hanya untuk segelintir orang agar tercapai target keberhasilan kepemimpinan sesaat dan selanjutnya menyengsarakan rakyat.
Makanya, kita memerlukan pemimpin jujur, cerdas, komunikatif dan amanah. Pemimpin yang sanggup melakukan perubahan. Memberikan sebesar-besarnya multi-manfaat kepada rakyatnya tanpa pernah mengharap balas. Karena sebaik-baik balasan hanya dari sang Maha Pemberi Balasan Yang Sempurna. Dialah Allah subhanahu wata’ala.
Bagaimana dengan Anda?
MC, 14 Agustus 2008
Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia (IIUM), berdomisili di Pekanbaru, Riau.
Kepemimpinan bukanlah sebuah bakat, tapi kepemimpinan dapat diciptakan oleh lingkungan dan masyarakatnya.
Betapa tidak, sejak dimulainya pemilihan secara langsung pasangan presiden dan wakil presiden oleh rakyat Indonesia maka kini terus bergulir pemilihan pemimpin model tersebut diberbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bahkan pelaksanaannya juga telah sampai ke tingkat RT.
Namun setelah pemimpin baru banyak yang harus meringkuk di jeruji besi karena terbukti korupsi atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Walau adakalanya kejahatan itu dilakukan sebelum terpilih memimpin rakyat didaerahnya.
Tentu hal ini merugikan bangsa dan rakyat. Karena miliaran bahkan triliunan dana terbuang hanya untuk memilih penjahat berkedok pemimpin. Bagaikan membeli kucing dalam karung.
Semestinya, calon pemimpin yang diusung partai politik tertentu beserta rakyat harus mengetahui track-record nya. Utama sekali bagi tim suksesnya. Makanya perlu kriteria-kriteria untuk menjaring calon pemimpin terbaik.
Dalam buku Modern Management, Certo (2006) menuturkan beberapa kriteria kepemimpinan hari ini, yaitu: (1)visionary, dengan memiliki kekuatan ide-ide asli untuk masa depan menuju perbaikan dan peningkatan, (2)passionate dengan bentuk kekuatan keyakinan yang dalam, (3)creative untuk menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, (4)flexible dengan mampu merubah keadaan dan kondisi berbeda-beda menjadi lebih baik, (5)inspirational sehingga orang-orang disekitarnya tergerak untuk melakukan prilaku-prilaku positif, (6)innovative dalam ide dan mengatasi berbagai persoalan, (7)courageous atau berani berkorban untuk kebaikan, (8)imaginative dalam berpikir, membuat sesuatu yang baru dan bermanfaat, (9)experimental dengan membuat dan memodifikasi sesuatu yang tidak berguna menjadi bermanfaat dan (10)independent dalam berpikir dan berbuat tanpa terpengaruh oleh apapun.
Selain itu, pemimpin perlu memiliki komitmen kebaikan dan kebermanfaatan. Hermawan Kartajaya menerangkan konsep progression of commitment value dengan empat tingkatan komitmen secara berurutan, mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dengan memberikan komitmen secara terpaksa sesuai apa yang diinginkan organisasinya. Tingkatan selanjutnya intellectual commitment dengan menjalankan komitmen untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya.
Selanjutnya emotional commitment yang dilakukan sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment dengan komitmen kerja dilakukan karena sudah menjadi panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Sedangkan dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin utamanya dipilih dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Yang tidak akan pernah curang dan berbuat zalim sekecil apapun kepada rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Karena dia tahu bahwa pengawas utamanya langsung dari sang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Yang tidak pernah tidur dan tidak pernah merasa lelah. Bisa saja pemimpin mengelabui seluruh manusia yang dipimpinnya, tapi ingat bahwa perkara tersembunyi dan tidak tuntas didunia ini, maka urusan tersebut pertanggungjawabannya nanti akan dituntaskan pada pengadilan sang Maha Adil, Allah, Penguasa alam semesta.
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qur’an surat Al Qiyamah ayat 36)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 18)
Kepemimpinan seyogyanya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta agar mendapat keberuntungan. Sebagai mana disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (surat Al Ma’idah ayat 35).
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (surat Al Ankabut ayat 69).
Selain itu, kepemimpinan tidak boleh dicari apalagi memintanya. Karena pertanggungjawaban kepemimpinan sunggguh berat di Hari Pembalasan nantinya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, banyak kisah-kisah kepemimpinan yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pemimpin atau calon pemimpin.
Kisah fenomenal adalah kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Hanya dalam waktu kepemimpinan 2,5 tahun, beliau mampu mensejahterakan rakyatnya baik Muslim maupun non-muslim. Saat itu, orang-orang yang mau menyalurkan zakatnya seharian penuh berkeliling tapi tidak ada yang mau menerimanya. Karena masyarakat merasa hidup berkecukupan sehingga tidak pantas menerima zakat.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi umat Islam seluruh dunia pada saat itu, beliau termasuk orang yang kaya. Namun, ketika diangkat menjadi pemimpin, beliau segera menyalurkan seluruh hartanya ke kas negara. Yang tersisa hanya tinggal baju dibadan. Beliau juga minta diberikan gaji hanya 2 dirham sehari, yang nilainya dapat memenuhi kebutuhan makan pada hari itu juga.
Beliau juga minta kepada istrinya untuk memilih apakah tetap bersamanya dalam kondisi seperti ini atau pergi meninggalkannya secara baik-baik dengan perceraian. Beliau takut, istrinya tidak tahan dan mempengaruhi beliau kearah keburukan dan kejahatan dalam menjalankan tugas besar sebagai pemimpin umat. Istrinya menangis mendengar penyampaian seperti itu dan berkata: ”wahai suamiku, justru dalam kondisi seperti ini diriku harus berada disampingmu.”
Kepemimpinan hari ini
Kalau dibandingkan dengan pemimpin hari ini, justru kekayaannya bertambah setelah menjadi pemimpin sedangkan rakyatnya makin sengsara. Pemimpin bergelimang fasilitas sedang fasilitas rakyat dikurangi bahkan dihilangkan. Fasilitas negara dijadikan fasilitas pribadi. Rakyat diminta hidup hemat sedang pemimpin berfoya-foya bersama istri, anak, keluarga dan kroni-kroninya.
Kondisi kepemimpinan seperti ini menjadikan rakyat terzalimi. Rakyat kelaparan ditengah daerah yang kaya. Ibarat ayam mati dilumbung padi. Akibatnya, silih berganti bencana menimpa pemimpin dan daerahnya. Sehingga membuat pemimpin “pusing”, walau kadang pusing menikmati bantuan dibalik bencana.
Keberhasilan kepemimpinan dilihat diatas kertas saja melalui data-data statistik. Tanpa mau membuka mata, hati dan telinga pada rakyat disekelilingnya. Padahal banyak tetangga disamping rumah pemimpin menderita busung lapar, sulit mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Al Qur’an menerangkan dalam surat Al A’raf ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Tentu tak ada yang menginginkan pemimpin yang hanya berani menjual kekayaan negara dan daerahnya hanya dengan alasan memenuhi kekurangan anggaran “bang-saku”. Dengan alasan privatisasi dan meningkatkan kinerja. Menguras tanah dan air hanya untuk segelintir orang agar tercapai target keberhasilan kepemimpinan sesaat dan selanjutnya menyengsarakan rakyat.
Makanya, kita memerlukan pemimpin jujur, cerdas, komunikatif dan amanah. Pemimpin yang sanggup melakukan perubahan. Memberikan sebesar-besarnya multi-manfaat kepada rakyatnya tanpa pernah mengharap balas. Karena sebaik-baik balasan hanya dari sang Maha Pemberi Balasan Yang Sempurna. Dialah Allah subhanahu wata’ala.
Bagaimana dengan Anda?
MC, 14 Agustus 2008
MEMBERDAYAKAN PEDAGANG KAKI LIMA
Oleh: Ade Chandra*
*Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia
(IIUM)Batch 14 asal Pekanbaru-Riau.
*Anggota ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) di IIUM
Pedagang Kaki Lima (PKL) nasibnya selalu fenomenal. Kehadirannya seolah “perusak” keindahan. Penggusuran mereka hampir terjadi disetiap kota-kota besar di Indonesia. Padahal dinegara-negara lain PKL menjadi bagian untuk pembangunan citra bangsa yang mandiri dan penuh keunikan.
Bila sempat berjalan-jalan ke ibukota negara jiran, Kuala Lumpur, tepatnya disekitar kawasan padat lalu lintas dekat Pasar Seni maka akan banyak dijumpai pedagang dengan gerobak dorongnya. Beraneka barang dagangan mereka jual. Mulai makanan cepat saji, buah-buahan, mainan, pakaian hingga semua aksesoris yang mempercantik penampilan. Setiap kita jalan ditempat tersebut, mereka tetap berada disana. Mereka ini kalau di Indonesia disebut PKL. Saya sempat bertanya dalam hati kenapa mereka tidak digusur. Padahal mereka bisa memperburuk pemandangan kota.
Belum lagi mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, pada malam-malam tertentu secara rutin minimal sekali seminggu juga akan kita temukan pasar malam. Beraneka dagangan dijajakan disana. Beberapa tempat yang pernah saya datangi, pengunjungnya sangat ramai sekali. Maklum harganya miring dibanding supermarket dan mall. Barang-barang yang sulit didapatkan pun juga ada disana.
Dikampus juga rutin diadakan pasar malam. Biasanya malam week-end. Kegiatan ini langsung diprakarsai oleh organisasi mahasiswa, Entrepreneurship Club. Sempat saya tanyakan pada mereka kenapa sering diadakan pasar malam dibanyak tempat di Malaysia termasuk dikampus dan kenapa pedagang dibiarkan berjualan dikawasan padat lalu lintas.
Beberapa hal penting yang mereka sampaikan membuat saya terperanjat. “Apa yang kami lakukan juga dilakukan pemerintah adalah untuk membangun semangat wirausaha dan kemandirian warga Melayu. Karena selama ini warga Melayu hanya mau bekerja sebagai kakitangan (pegawai) pemerintah saja. Sedangkan warga selain Melayu mendominasi perdagangan.” Rakyat diberikan pembinaan berkelanjutan agar tahu arti penting kedisiplinan, ketertiban, keteraturan, kebersihan dan keindahan. Selain itu, pengawasan dilakukan secara rutin. Tindakan penggusuran hanya menjadi jalan terakhir bila upaya-upaya lain tidak dapat dilakukan. Itu pun hampir tidak pernah terjadi.
Untuk mendukung program wirausaha rakyatnya, pemerintah Malaysia dan swasta berlomba-lomba memberikan bantuan secara berkelanjutan. Mulai dari kebijakan strategis, pengembangan manajemen organisasi dan kerja-kerja teknis lainnya, hingga bantuan financial diberikan. Begitu seriusnya, bahkan ada bantuan keuangan awal bagi proposal bisnis rakyatnya yang memiliki prospek untuk dimajukan. Nilainya sekitar RM20.000 atau setara dengan Rp. 58.000.000 (andai kurs 1RM = Rp. 2.900). Bila produknya sudah jadi dan memerlukan pengembangan pemasaran, maka akan dibantu lagi sama dengan jumlah uang yang disebutkan diatas.
Saya teringat dengan PKL yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Mereka sering digusur secara paksa bahkan harus merelakan gerobaknya disita dan tragisnya lagi dibakar. Alasan yang sering dikemukakan aparat pemerintah dan jajarannya adalah bahwa PKL merusak pemandangan kota. Sudah berkali-kali diperingatkan tapi tidak juga mau pindah. Padahal nyatanya pembinaan berkelanjutan sangat jarang dilakukan pada PKL. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di negara jiran.
Kita bangsa Indonesia seharusnya bangga memiliki PKL dengan semangat kemandirian luar biasa. Mereka menjadi solusi konkrit terhadap permasalahan pengangguran. Mereka berupaya eksis ditengah naiknya harga minyak dengan biaya hidup yang semakin meninggi.
Suatu kali saya bertanya dengan PKL yang sudah berdagang makanan cepat saji selama 10 tahun di kota Pekanbaru, “Bang, kenapa mau jadi PKL, kan sering kena gusur?” jawabannya membuat saya terperanjat, “Sudah panggilan jiwa, saya tidak ingin menjadi beban pemerintah. Saya ingin menjadi solusi buat bangsa ini!” jawabnya sambil tersenyum. Benar saja, beliau awalnya mempekerjakan 2 orang karyawan yang dulunya pengangguran dikampungnya dan sekarang mereka telah mandiri. Begitu terus dilakukannya tiap 2 tahun.
Jawaban ini mengingatkan saya tentang konsep progression of commitment value dengan 4 tingkatan komitmen secara berurutan. Mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dimana komitmen dilakukan secara terpaksa. Sedangkan tingkatan selanjutnya intellectual commitment dimana suatu komitmen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya. Emotional commitment bersifat sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment yang sudah merupakan panggilan jiwa dan tidak terikat lagi dengan masalah duniawi. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya?
Saya memiliki bukti bahwa pemerintah daerah dan jajarannya ada yang telah sampai pada tahap spiritual commitment, bekerja sebagai panggilan jiwa. Saya menemukan di pinggiran Jalan Sam Ratulangi kota Pekanbaru, PKL diberikan kesempatan untuk berjualan disana. Sudah lebih dari 10 tahun. Jumlah PKL juga semakin bertambah. Mereka biasanya memenuhi pinggiran jalan untuk mulai berdagang setelah Sholat Ashar dan menutup dagangannya hingga jam 12 malam. PKL ini sangat ramah pada pembeli dan sangat menjaga kebersihan lingkungan disekitar mereka.
Bila hal seperti ini terus dikembangkan dinegeri kita tercinta, maka 10 tahun kedepan bangsa ini akan menjadi bangsa mandiri yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Namun, yang sering muncul kepermukaan adalah bahwa PKL selalu dikebiri. Padahal kita memerlukan upaya-upaya lebih baik lagi untuk menjadikan PKL sebagai kebanggaan bangsa. Bukan saja masalah pendapatan masyarakat yang semakin meningkat, juga kreatifitas dan inovasi produk dan pelayananan juga akan semakin berkembang.
Satu hal lagi, bangsa ini akan memiliki pencitraan yang baik. Penuh keunikan dan melambangkan semangat kemandirian yang tangguh.
Beberapa ide yang dapat dilakukan pemerintah maupun swasta dalam memberdayakan PKL diantaranya:
•Mencarikan lokasi yang layak terlebih dahulu sebelum PKL akan dipindahkan. Layak disini bukannya bagi pemerintah saja, tetapi juga akses kemudahan bagi pembeli sehingga transaksi perdagangan berlangsung baik.
•Membantu memberikan tempat jualan yang layak dengan mobilitas yang tinggi. Seperti dibeberapa negara para PKL nya jualan diatas mobil yang telah dimodifikasi sehingga mudah untuk jualan dimana saja.
•Membuka akses perbankan berjalan bagi PKL, sangat tepat peluang ini ditangkap oleh perbankan syariah khususnya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan lembaga keuangan syariah mikro dengan memakai konsep mudharabah (bagi hasil) maupun musyarakah. Bisa jadi sistem pengembalian dilakukan perhari atau pun perminggu. Saat PKL mulai menggelar dagangannya, modal segera diserahkan oleh bank syariah. Setelah tutup transaksinya maka modal dan keuntungan yang telah disepakati sebelumnya diserahkan PKL kembali ke bank syariah.
•Melakukan perbaikan penampilan penjual dan tempatnya, pembinaan berkelanjutan baik dari kualitas produk yang dijual, cara pelayanan kepada pelanggan maupun pencatatan keuangan sederhana. Juga melakukan pembinaan spiritual mereka. Pembinaan ini akan memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.
•Memberikan penghargaan kepada PKL dengan mempekerjakan karyawan lebih dari 5 orang dan menjadi pujian bagi pelanggan dalam hal kehalalan dan kualitas produk, pelayanan, dan tempat serta ramai dikunjungi pembeli maupun wisatawan.
Nah, kerja sama yang baik antara pemerintah, swasta dan PKL tentu akan menghasilkan keuntungan juga bagi masing-masing pihak. Sisi lainnya, masyarakat juga akan lebih memilih untuk belanja pada PKL karena kualitas produk, keunikan dan harga yang pantas. Hal ini akan memberikan win-win solution dan atau win-win situation.
Kembali pada PKL dinegara jiran, ternyata banyak dari mereka berasal dari Indonesia. Bahkan diantara mereka banyak yang sudah menjadi permanent residence. “Saya mau menjadi penghasil devisa buat negara kita,” kata PKL yang berada dikampus IIUM. Karena setiap keuntungan, akan kami kirim buat sanak keluarga di tanah air. Kami pun para mahasiswa Indonesia sangat mendukung mereka. “Kita belanja pada orang Indonesia saja, agar kita juga ikut berperan dalam memberikan kontribusi bagi negara,” kata salah seorang mahasiswa kandidat doktor engineering asal Jakarta.
Ini merupakan panggilan jiwa dari ide sederhana tapi penuh kedalaman makna bila dilaksanakan secara benar dan berkelanjutan. Sudah saatnya kita bangun kemandirian bangsa dengan memberdayakan pedagang kaki lima secara tepat dan bijaksana. Agar bangsa ini tidak akan pernah tergantung lagi dari belas kasihan bangsa lain dalam bentuk utang.
Bagaimana dengan Anda?
MC, 14 Agustus 2008
*Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia
(IIUM)Batch 14 asal Pekanbaru-Riau.
*Anggota ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) di IIUM
Pedagang Kaki Lima (PKL) nasibnya selalu fenomenal. Kehadirannya seolah “perusak” keindahan. Penggusuran mereka hampir terjadi disetiap kota-kota besar di Indonesia. Padahal dinegara-negara lain PKL menjadi bagian untuk pembangunan citra bangsa yang mandiri dan penuh keunikan.
Bila sempat berjalan-jalan ke ibukota negara jiran, Kuala Lumpur, tepatnya disekitar kawasan padat lalu lintas dekat Pasar Seni maka akan banyak dijumpai pedagang dengan gerobak dorongnya. Beraneka barang dagangan mereka jual. Mulai makanan cepat saji, buah-buahan, mainan, pakaian hingga semua aksesoris yang mempercantik penampilan. Setiap kita jalan ditempat tersebut, mereka tetap berada disana. Mereka ini kalau di Indonesia disebut PKL. Saya sempat bertanya dalam hati kenapa mereka tidak digusur. Padahal mereka bisa memperburuk pemandangan kota.
Belum lagi mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, pada malam-malam tertentu secara rutin minimal sekali seminggu juga akan kita temukan pasar malam. Beraneka dagangan dijajakan disana. Beberapa tempat yang pernah saya datangi, pengunjungnya sangat ramai sekali. Maklum harganya miring dibanding supermarket dan mall. Barang-barang yang sulit didapatkan pun juga ada disana.
Dikampus juga rutin diadakan pasar malam. Biasanya malam week-end. Kegiatan ini langsung diprakarsai oleh organisasi mahasiswa, Entrepreneurship Club. Sempat saya tanyakan pada mereka kenapa sering diadakan pasar malam dibanyak tempat di Malaysia termasuk dikampus dan kenapa pedagang dibiarkan berjualan dikawasan padat lalu lintas.
Beberapa hal penting yang mereka sampaikan membuat saya terperanjat. “Apa yang kami lakukan juga dilakukan pemerintah adalah untuk membangun semangat wirausaha dan kemandirian warga Melayu. Karena selama ini warga Melayu hanya mau bekerja sebagai kakitangan (pegawai) pemerintah saja. Sedangkan warga selain Melayu mendominasi perdagangan.” Rakyat diberikan pembinaan berkelanjutan agar tahu arti penting kedisiplinan, ketertiban, keteraturan, kebersihan dan keindahan. Selain itu, pengawasan dilakukan secara rutin. Tindakan penggusuran hanya menjadi jalan terakhir bila upaya-upaya lain tidak dapat dilakukan. Itu pun hampir tidak pernah terjadi.
Untuk mendukung program wirausaha rakyatnya, pemerintah Malaysia dan swasta berlomba-lomba memberikan bantuan secara berkelanjutan. Mulai dari kebijakan strategis, pengembangan manajemen organisasi dan kerja-kerja teknis lainnya, hingga bantuan financial diberikan. Begitu seriusnya, bahkan ada bantuan keuangan awal bagi proposal bisnis rakyatnya yang memiliki prospek untuk dimajukan. Nilainya sekitar RM20.000 atau setara dengan Rp. 58.000.000 (andai kurs 1RM = Rp. 2.900). Bila produknya sudah jadi dan memerlukan pengembangan pemasaran, maka akan dibantu lagi sama dengan jumlah uang yang disebutkan diatas.
Saya teringat dengan PKL yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Mereka sering digusur secara paksa bahkan harus merelakan gerobaknya disita dan tragisnya lagi dibakar. Alasan yang sering dikemukakan aparat pemerintah dan jajarannya adalah bahwa PKL merusak pemandangan kota. Sudah berkali-kali diperingatkan tapi tidak juga mau pindah. Padahal nyatanya pembinaan berkelanjutan sangat jarang dilakukan pada PKL. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di negara jiran.
Kita bangsa Indonesia seharusnya bangga memiliki PKL dengan semangat kemandirian luar biasa. Mereka menjadi solusi konkrit terhadap permasalahan pengangguran. Mereka berupaya eksis ditengah naiknya harga minyak dengan biaya hidup yang semakin meninggi.
Suatu kali saya bertanya dengan PKL yang sudah berdagang makanan cepat saji selama 10 tahun di kota Pekanbaru, “Bang, kenapa mau jadi PKL, kan sering kena gusur?” jawabannya membuat saya terperanjat, “Sudah panggilan jiwa, saya tidak ingin menjadi beban pemerintah. Saya ingin menjadi solusi buat bangsa ini!” jawabnya sambil tersenyum. Benar saja, beliau awalnya mempekerjakan 2 orang karyawan yang dulunya pengangguran dikampungnya dan sekarang mereka telah mandiri. Begitu terus dilakukannya tiap 2 tahun.
Jawaban ini mengingatkan saya tentang konsep progression of commitment value dengan 4 tingkatan komitmen secara berurutan. Mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment dan spiritual commitment.
Political commitment merupakan tingkatan terendah dimana komitmen dilakukan secara terpaksa. Sedangkan tingkatan selanjutnya intellectual commitment dimana suatu komitmen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya. Emotional commitment bersifat sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment yang sudah merupakan panggilan jiwa dan tidak terikat lagi dengan masalah duniawi. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya?
Saya memiliki bukti bahwa pemerintah daerah dan jajarannya ada yang telah sampai pada tahap spiritual commitment, bekerja sebagai panggilan jiwa. Saya menemukan di pinggiran Jalan Sam Ratulangi kota Pekanbaru, PKL diberikan kesempatan untuk berjualan disana. Sudah lebih dari 10 tahun. Jumlah PKL juga semakin bertambah. Mereka biasanya memenuhi pinggiran jalan untuk mulai berdagang setelah Sholat Ashar dan menutup dagangannya hingga jam 12 malam. PKL ini sangat ramah pada pembeli dan sangat menjaga kebersihan lingkungan disekitar mereka.
Bila hal seperti ini terus dikembangkan dinegeri kita tercinta, maka 10 tahun kedepan bangsa ini akan menjadi bangsa mandiri yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Namun, yang sering muncul kepermukaan adalah bahwa PKL selalu dikebiri. Padahal kita memerlukan upaya-upaya lebih baik lagi untuk menjadikan PKL sebagai kebanggaan bangsa. Bukan saja masalah pendapatan masyarakat yang semakin meningkat, juga kreatifitas dan inovasi produk dan pelayananan juga akan semakin berkembang.
Satu hal lagi, bangsa ini akan memiliki pencitraan yang baik. Penuh keunikan dan melambangkan semangat kemandirian yang tangguh.
Beberapa ide yang dapat dilakukan pemerintah maupun swasta dalam memberdayakan PKL diantaranya:
•Mencarikan lokasi yang layak terlebih dahulu sebelum PKL akan dipindahkan. Layak disini bukannya bagi pemerintah saja, tetapi juga akses kemudahan bagi pembeli sehingga transaksi perdagangan berlangsung baik.
•Membantu memberikan tempat jualan yang layak dengan mobilitas yang tinggi. Seperti dibeberapa negara para PKL nya jualan diatas mobil yang telah dimodifikasi sehingga mudah untuk jualan dimana saja.
•Membuka akses perbankan berjalan bagi PKL, sangat tepat peluang ini ditangkap oleh perbankan syariah khususnya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan lembaga keuangan syariah mikro dengan memakai konsep mudharabah (bagi hasil) maupun musyarakah. Bisa jadi sistem pengembalian dilakukan perhari atau pun perminggu. Saat PKL mulai menggelar dagangannya, modal segera diserahkan oleh bank syariah. Setelah tutup transaksinya maka modal dan keuntungan yang telah disepakati sebelumnya diserahkan PKL kembali ke bank syariah.
•Melakukan perbaikan penampilan penjual dan tempatnya, pembinaan berkelanjutan baik dari kualitas produk yang dijual, cara pelayanan kepada pelanggan maupun pencatatan keuangan sederhana. Juga melakukan pembinaan spiritual mereka. Pembinaan ini akan memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.
•Memberikan penghargaan kepada PKL dengan mempekerjakan karyawan lebih dari 5 orang dan menjadi pujian bagi pelanggan dalam hal kehalalan dan kualitas produk, pelayanan, dan tempat serta ramai dikunjungi pembeli maupun wisatawan.
Nah, kerja sama yang baik antara pemerintah, swasta dan PKL tentu akan menghasilkan keuntungan juga bagi masing-masing pihak. Sisi lainnya, masyarakat juga akan lebih memilih untuk belanja pada PKL karena kualitas produk, keunikan dan harga yang pantas. Hal ini akan memberikan win-win solution dan atau win-win situation.
Kembali pada PKL dinegara jiran, ternyata banyak dari mereka berasal dari Indonesia. Bahkan diantara mereka banyak yang sudah menjadi permanent residence. “Saya mau menjadi penghasil devisa buat negara kita,” kata PKL yang berada dikampus IIUM. Karena setiap keuntungan, akan kami kirim buat sanak keluarga di tanah air. Kami pun para mahasiswa Indonesia sangat mendukung mereka. “Kita belanja pada orang Indonesia saja, agar kita juga ikut berperan dalam memberikan kontribusi bagi negara,” kata salah seorang mahasiswa kandidat doktor engineering asal Jakarta.
Ini merupakan panggilan jiwa dari ide sederhana tapi penuh kedalaman makna bila dilaksanakan secara benar dan berkelanjutan. Sudah saatnya kita bangun kemandirian bangsa dengan memberdayakan pedagang kaki lima secara tepat dan bijaksana. Agar bangsa ini tidak akan pernah tergantung lagi dari belas kasihan bangsa lain dalam bentuk utang.
Bagaimana dengan Anda?
MC, 14 Agustus 2008
Kamis, Agustus 07, 2008
Tujuan dan Arah Keuangan Islam
Sutan Emir Hidayat
Dosen Keuangan Islam University College of Bahrain Manama, Bahrain
Alumni MBA, IIUM
posted on August 7, 2008
Setelah diragukan dan kurang diperhatikan selama beberapa dekade sebelumnya oleh banyak pihak di Tanah Air, pada tahun ini (2008) keuangan Islam (syariah) telah dijadikan sebagai agenda nasional. Walaupun terhitung agak terlambat, keseriusan pemerintah dalam mendukung perkembangan keuangan Islam perlu disyukuri karena keuangan Islam sudah menjadi fenomena global yang telah terbukti sebagai suatu sistem keuangan yang lebih adil dan mampu bertahan di tengah krisis ekonomi.
Suatu hal yang menarik adalah ketertarikan negara-negara non-Muslim dalam menerapkan keuangan Islam di negaranya. Bahkan, pusat-pusat keuangan dunia, seperti New York, Tokyo, London, Hong Kong, dan Singapura nyata-nyata sudah mendeklarasikan keinginan mereka untuk menjadi pusat keuangan Islam dunia.
Tentunya kenaikan harga minyak dunia merupakan salah satu faktor penting yang melandasi keinginan tersebut. Namun, di balik semua itu semakin tingginya kesadaran investor Muslim terutama investor Timur Tengah akan pentingnya penyelarasan seluruh aspek hidupnya, termasuk aspek keuangan kepada syariat Islam adalah faktor utama pendorong pertumbuhan keuangan Islam.
Di balik semua fenomena di atas, agar perkembangan keuangan Islam di Indonesia tidak salah langkah, perlulah kita ketahui tujuan dan arah yang hendak dicapai dari pendirian keuangan Islam. Sistem perbankan dan keuangan Islam yang ada saat ini tercipta sebagai hasil ijtihadw para ulama dalam rangka menyelaraskan semua aspek kehidupan seorang Muslim dengan ajaran agamanya. Ini dikarenakan Islam adalah sebuah cara hidup yang komprehensif yang tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat ritual, tetapi juga mengatur hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi, politik, dan aspek kehidupan lainnya.
Sebuah kajian pernah dilakukan oleh Watt (1979) tentang makna agama bagi seorang Muslim dan makna agama bagi masyarakat sekuler Barat. Dia menemukan bahwa agama tidak mendapat tempat dalam pengaturan ekonomi, politik, perdagangan, dan industri dalam masyarakat sekuler Barat. Sebaliknya, agama dipandang sebagai cara hidup yang mencakup ritual keagamaan, ekonomi, politik, bahkan etika perilaku.
Sebagai suatu sistem keuangan yang berdasarkan syariat Islam, maka seyogyanya arah dan tujuan didirikannya keuangan Islam mestilah untuk mewujudkan objektif syariah (maqasid al-syariah ). Secara umum, objektif syariah dikategorikan kepada pendidikan (tarbiyah ), keadilan (adalah ), dan kesejahteraan umat (maslahatul ammah).
Peranan institusi keuangan Islam, seperti bank syariah dalam mewujudkan ketiga objektif tersebut, sangatlah diperlukan. Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan, bank syariah mesti ikut serta dalam program pengenalan keuangan Islam kepada masyarakat. Hal itu dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan institusi pendidikan, institusi pelatihan, dan media masa.
Bank syariah diharapkan mendukung dan mensponsori institusi-institusi pendidikan yang menawarkan program akademik keuangan Islam. Hal ini sangat berguna dikarenakan saat ini jumlah praktisi keuangan Islam yang memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang keuangan Islam masih sangat terbatas.
Tujuan menegakkan keadilan dapat diwujudkan bank syariah dengan bersikap transparan dalam laporan keuangan, adil dalam pembagian keuntungan dengan nasabah, dan adil dalam pembebanan setiap biaya servis. Kesejahteraan umat dapat diwujudkan bank syariah melalui alokasi pembiayaan (financing ) kepada sektor-sektor yang membawa manfaat bagi orang banyak dan dapat digunakan sebagai sarana dakwah penyebaran Islam.
Sebagai contoh, apabila kebanyakan masyarakat di suatu daerah adalah petani yang notabene memerlukan pembiayaan pertanian, maka bank syariah yang beroperasi di daerah tersebut mesti mengalokasikan pembiayaannya pada sektor pertanian dalam persentase yang signifikan meskipun pembiayaan perumahan di daerah tersebut menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi. Namun, hal tersebut tidak berarti syariat Islam bertentangan dengan prinsip maksimisasi keuntungan (profit maximization).
Pada dasarnya, bank syariah mesti hanya memberikan pembiayaan kepada sektor-sektor yang menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan bank syariah dipercaya mengelola uang nasabah dan pemegang saham yang jumlahnya besar. Namun, sudah seharusnya ada keseimbangan antara pencapaian tujuan komersial dan tujuan-tujuan sosial keagamaan sebagaimana diajarkan dalam syariat Islam. Ketiadaan keseimbangan ini bisa menyebabkan bank syariah dan institusi keuangan Islam lainnya kehilangan identitas aslinya.
Dosen Keuangan Islam University College of Bahrain Manama, Bahrain
Alumni MBA, IIUM
posted on August 7, 2008
Setelah diragukan dan kurang diperhatikan selama beberapa dekade sebelumnya oleh banyak pihak di Tanah Air, pada tahun ini (2008) keuangan Islam (syariah) telah dijadikan sebagai agenda nasional. Walaupun terhitung agak terlambat, keseriusan pemerintah dalam mendukung perkembangan keuangan Islam perlu disyukuri karena keuangan Islam sudah menjadi fenomena global yang telah terbukti sebagai suatu sistem keuangan yang lebih adil dan mampu bertahan di tengah krisis ekonomi.
Suatu hal yang menarik adalah ketertarikan negara-negara non-Muslim dalam menerapkan keuangan Islam di negaranya. Bahkan, pusat-pusat keuangan dunia, seperti New York, Tokyo, London, Hong Kong, dan Singapura nyata-nyata sudah mendeklarasikan keinginan mereka untuk menjadi pusat keuangan Islam dunia.
Tentunya kenaikan harga minyak dunia merupakan salah satu faktor penting yang melandasi keinginan tersebut. Namun, di balik semua itu semakin tingginya kesadaran investor Muslim terutama investor Timur Tengah akan pentingnya penyelarasan seluruh aspek hidupnya, termasuk aspek keuangan kepada syariat Islam adalah faktor utama pendorong pertumbuhan keuangan Islam.
Di balik semua fenomena di atas, agar perkembangan keuangan Islam di Indonesia tidak salah langkah, perlulah kita ketahui tujuan dan arah yang hendak dicapai dari pendirian keuangan Islam. Sistem perbankan dan keuangan Islam yang ada saat ini tercipta sebagai hasil ijtihadw para ulama dalam rangka menyelaraskan semua aspek kehidupan seorang Muslim dengan ajaran agamanya. Ini dikarenakan Islam adalah sebuah cara hidup yang komprehensif yang tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat ritual, tetapi juga mengatur hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi, politik, dan aspek kehidupan lainnya.
Sebuah kajian pernah dilakukan oleh Watt (1979) tentang makna agama bagi seorang Muslim dan makna agama bagi masyarakat sekuler Barat. Dia menemukan bahwa agama tidak mendapat tempat dalam pengaturan ekonomi, politik, perdagangan, dan industri dalam masyarakat sekuler Barat. Sebaliknya, agama dipandang sebagai cara hidup yang mencakup ritual keagamaan, ekonomi, politik, bahkan etika perilaku.
Sebagai suatu sistem keuangan yang berdasarkan syariat Islam, maka seyogyanya arah dan tujuan didirikannya keuangan Islam mestilah untuk mewujudkan objektif syariah (maqasid al-syariah ). Secara umum, objektif syariah dikategorikan kepada pendidikan (tarbiyah ), keadilan (adalah ), dan kesejahteraan umat (maslahatul ammah).
Peranan institusi keuangan Islam, seperti bank syariah dalam mewujudkan ketiga objektif tersebut, sangatlah diperlukan. Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan, bank syariah mesti ikut serta dalam program pengenalan keuangan Islam kepada masyarakat. Hal itu dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan institusi pendidikan, institusi pelatihan, dan media masa.
Bank syariah diharapkan mendukung dan mensponsori institusi-institusi pendidikan yang menawarkan program akademik keuangan Islam. Hal ini sangat berguna dikarenakan saat ini jumlah praktisi keuangan Islam yang memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang keuangan Islam masih sangat terbatas.
Tujuan menegakkan keadilan dapat diwujudkan bank syariah dengan bersikap transparan dalam laporan keuangan, adil dalam pembagian keuntungan dengan nasabah, dan adil dalam pembebanan setiap biaya servis. Kesejahteraan umat dapat diwujudkan bank syariah melalui alokasi pembiayaan (financing ) kepada sektor-sektor yang membawa manfaat bagi orang banyak dan dapat digunakan sebagai sarana dakwah penyebaran Islam.
Sebagai contoh, apabila kebanyakan masyarakat di suatu daerah adalah petani yang notabene memerlukan pembiayaan pertanian, maka bank syariah yang beroperasi di daerah tersebut mesti mengalokasikan pembiayaannya pada sektor pertanian dalam persentase yang signifikan meskipun pembiayaan perumahan di daerah tersebut menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi. Namun, hal tersebut tidak berarti syariat Islam bertentangan dengan prinsip maksimisasi keuntungan (profit maximization).
Pada dasarnya, bank syariah mesti hanya memberikan pembiayaan kepada sektor-sektor yang menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan bank syariah dipercaya mengelola uang nasabah dan pemegang saham yang jumlahnya besar. Namun, sudah seharusnya ada keseimbangan antara pencapaian tujuan komersial dan tujuan-tujuan sosial keagamaan sebagaimana diajarkan dalam syariat Islam. Ketiadaan keseimbangan ini bisa menyebabkan bank syariah dan institusi keuangan Islam lainnya kehilangan identitas aslinya.
Cara Kapitalis Merampas Negara
Oleh A. Jafar M. Sidik
posted on August 7, 2008
Jakarta (ANTARA News) - "Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini."
Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku "The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism" karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007).
Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran "The Observer" sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak aset negara, tak peduli jutaan orang mati dan jatuh melarat karenanya.
Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta berdarah di seluruh dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan publik, krisis moneter, merger dan akuisisi perusahaan pasca krisis, liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan demokratisasi.
Selain mewujud dalam perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs), mereka mengotaki Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bahkan organisasi-organisasi bantuan internasional seperti Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Mereka melekat pada lembaga-lembaga "think tank" terkenal seperti American Enterprise Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute, sementara ruhnya bersemayam dalam sejumlah universitas Barat yang menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara berkembang yang belajar karena biaya asing.
Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak, demokratis atau tidak, korup atau tidak, yang penting menguntungkan mereka, persis pepatah mantan pemimpin RRC Deng Xiaoping, "Tak penting kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus."
Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik dan berupaya membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga merekalah yang sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi sosial, ekonomi dan politik antar-bangsa.
"Saya ingin pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian membenamkannya dalam bak mandi," kata Grover Norquist, pelobi kepentingan bisnis MNCs terkenal di AS sekaligus pembela fanatik neoliberal.
Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu mengacaubalaukan negara dengan menciptakan situasi krisis sampai kesadaran nasional negara itu hilang, terutama berkaitan dengan konsep dasar pengelolaan ekonominya.
Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis tinggi nan beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal terpenting, negara itu menjadi amat tergantung pada modal asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi oleh kaum kapitalis itu.
Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai kapitalis ini disebut Naomi Klein sebagai "Shock Doctrine."
Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS "kejutkan dan takutkan" (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas intelijen AS (CIA), "kubark counter intelligence interrogation."
Lewat "kubark", CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi mengerikan sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti karakter baru jadi-jadian, seperti dalam kisah trilogi "Bourne" yang dibintangi aktor Hollywood, Matt Damon.
Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode dekarakterisasi ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara berada dalam suasana krisis, sehingga gampang dipaksa untuk menelan resep kebijakan ekonomi prokapitalis yang formula dasarnya adalah liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan swastanisasi aset publik.
Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton Friedman, seorang penentang intervensi negara dalam pengelolaan ekonomi yang dulu disarankan ekonom besar pasca-Perang Dunia I, John Maynard Keynes.
Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada pasar dan ia ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.
Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan junta militer Brazil pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi kerakyatannya Presiden Joao Gullart pada 1964, Friedman membidik Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.
Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem ekonomi sosialis yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun mengharuskan negara melindungi kepentingan publik. Ekonomi sosialis Chile berbeda dari komunisme, seperti diklaim AS, bahkan mirip azas demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.
Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende itu lalu dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai ancaman. Salah satu yang terancam, American Telephone & Telegraph (AT&T), mendesak pemerintah AS untuk mencungkil Allende dari kekuasaannya.
Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di Universitas Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan mengimbangi popularitas para ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic Bravo yang menjadi arsitek kebijakan ekonomi Allende.
Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford Foundation, yang juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah di Universitas California, Berkeley, pada 1956 hingga menjadi teknokrat Orde Baru.
Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal ini disiapkan sebagai teknokrat pasca Allende.
Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan CIA.
Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam ketakutan, para ekonom Friedmanis menyuntikkan resep propasar (prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing.
Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi isi utama buku yang disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur ekonomi terbaik abad 21 ini.
Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut sebagai puncak kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak sampai-sampai Amerika Latin alergi dengan apa pun yang berbau Friedmanis seperti IMF.
"Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF," kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.
Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis.
Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca-komunis adalah beberapa contoh.
Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom reformis bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi negara.
Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Solomon Brothers dan ExxonMobil.
Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.
Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.
Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan propasar. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.
Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.
Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia "berkhianat" dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia.
Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.
Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.
"Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir," kata ekonom Robert Wade.
Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.
Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.
Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.
Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, diantaranya Srilangka.
Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.
Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar "menukarkan" pantai indah Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.
Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis dan bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, "kapitalisme bencana". (*)
posted on August 7, 2008
Jakarta (ANTARA News) - "Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini."
Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku "The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism" karangan wartawati Kanada, Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007).
Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran "The Observer" sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak aset negara, tak peduli jutaan orang mati dan jatuh melarat karenanya.
Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta berdarah di seluruh dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan publik, krisis moneter, merger dan akuisisi perusahaan pasca krisis, liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan demokratisasi.
Selain mewujud dalam perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs), mereka mengotaki Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bahkan organisasi-organisasi bantuan internasional seperti Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Mereka melekat pada lembaga-lembaga "think tank" terkenal seperti American Enterprise Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute, sementara ruhnya bersemayam dalam sejumlah universitas Barat yang menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara berkembang yang belajar karena biaya asing.
Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak, demokratis atau tidak, korup atau tidak, yang penting menguntungkan mereka, persis pepatah mantan pemimpin RRC Deng Xiaoping, "Tak penting kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus."
Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik dan berupaya membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga merekalah yang sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi sosial, ekonomi dan politik antar-bangsa.
"Saya ingin pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya ke kamar mandi untuk kemudian membenamkannya dalam bak mandi," kata Grover Norquist, pelobi kepentingan bisnis MNCs terkenal di AS sekaligus pembela fanatik neoliberal.
Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu mengacaubalaukan negara dengan menciptakan situasi krisis sampai kesadaran nasional negara itu hilang, terutama berkaitan dengan konsep dasar pengelolaan ekonominya.
Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis tinggi nan beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal terpenting, negara itu menjadi amat tergantung pada modal asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi oleh kaum kapitalis itu.
Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai kapitalis ini disebut Naomi Klein sebagai "Shock Doctrine."
Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS "kejutkan dan takutkan" (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas intelijen AS (CIA), "kubark counter intelligence interrogation."
Lewat "kubark", CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi mengerikan sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti karakter baru jadi-jadian, seperti dalam kisah trilogi "Bourne" yang dibintangi aktor Hollywood, Matt Damon.
Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode dekarakterisasi ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara berada dalam suasana krisis, sehingga gampang dipaksa untuk menelan resep kebijakan ekonomi prokapitalis yang formula dasarnya adalah liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan swastanisasi aset publik.
Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton Friedman, seorang penentang intervensi negara dalam pengelolaan ekonomi yang dulu disarankan ekonom besar pasca-Perang Dunia I, John Maynard Keynes.
Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada pasar dan ia ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.
Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan junta militer Brazil pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi kerakyatannya Presiden Joao Gullart pada 1964, Friedman membidik Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.
Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem ekonomi sosialis yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun mengharuskan negara melindungi kepentingan publik. Ekonomi sosialis Chile berbeda dari komunisme, seperti diklaim AS, bahkan mirip azas demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.
Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende itu lalu dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai ancaman. Salah satu yang terancam, American Telephone & Telegraph (AT&T), mendesak pemerintah AS untuk mencungkil Allende dari kekuasaannya.
Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di Universitas Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan mengimbangi popularitas para ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic Bravo yang menjadi arsitek kebijakan ekonomi Allende.
Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford Foundation, yang juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah di Universitas California, Berkeley, pada 1956 hingga menjadi teknokrat Orde Baru.
Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal ini disiapkan sebagai teknokrat pasca Allende.
Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet dukungan CIA.
Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam ketakutan, para ekonom Friedmanis menyuntikkan resep propasar (prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga Chile terperangkap utang dan kekuasaan asing.
Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi isi utama buku yang disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur ekonomi terbaik abad 21 ini.
Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut sebagai puncak kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak sampai-sampai Amerika Latin alergi dengan apa pun yang berbau Friedmanis seperti IMF.
"Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF," kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.
Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis.
Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan Polandia pasca-komunis adalah beberapa contoh.
Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom reformis bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan Barat yang ternyata para calo swastanisasi negara.
Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap berperan menjadi mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun para analis keuangan perusahaan asing, seperti Solomon Brothers dan ExxonMobil.
Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.
Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard, sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.
Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan IMF, mempromosikan kebijakan propasar. Vladimir Putin kemudian mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan IMF.
Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.
Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan diperah korporasi asing, sehingga ia "berkhianat" dengan membagikan aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis moneter Asia.
Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya Malaysia yang menampik formula rente itu.
Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dan akuisisi perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.
"Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam limapuluh tahun terakhir," kata ekonom Robert Wade.
Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang minyak di Irak.
Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok Irak.
Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks, negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis, tentara bayaran dan para spesialis teknologi keamanan mendadak bergelimang uang.
Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata eksotis, diantaranya Srilangka.
Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada 2004.
Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar "menukarkan" pantai indah Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.
Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki, situasi krisis dan bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, "kapitalisme bencana". (*)
Selasa, Agustus 05, 2008
9 HIKMAH LUAR BIASA MOMENTUM ISRA’ MI’RAJ
Oleh : Ade Chandra
Mahasiswa Master of Management International Islamic University Malaysia (IIUM)
Disampaikan Pada 'Celebration of Isra' Mi'raj' Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM) cabang IIUM sekaligus silaturrahim dengan PMRM Pusat dan PPI-IIUM, Ahad, 3 Agustus 2008
Pendahuluan
Peringatan Isra’ Mi’raj sudah sering kita peringati. Kalau dihitung sejak pertama kali kita ikuti waktu kecil dulu hingga sekarang, mungkin sudah puluhan jumlahnya. Namun hingga saat ini bisa jadi kita mengikuti Isra’ Mi’raj hanya sekedar rutinitas tanpa pernah menangkap hikmah luar biasa dibaliknya. Maka, kiranya perlu kita gali secara mendalam hikmah luar biasa momentum Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam sembilan kata yaitu: (1) Islam, (2)Sholat, (3)Riadhus Sholihin, (4)Al Qur’an, (5)Masjid, (6)Ihsan, (7)Rahmah, (8) Amal, (9)Jannah.
1.Kenapa Kita Islam
Dalam hidup ini, tidak ada ajaran apapun didunia ini yang luar biasa menyampaikan dengan jelas dan terang tentang Islam. Islam adalah ajaran yang dibangun dengan pondasi dua kalimah syahadat yang mengakui sepenuh hati bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah semata dan untuk itu kita mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang dengan keteladanannya kita memiliki contoh nyata dalam seluruh aspek kehidupan untuk meraih keselamatan hidup didunia dan akhirat.
“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:205)
Islam adalah ibadah dan negara, perdamaian dan akhlak, politik dan ekonomi, kilatan pedang dan Al Qur’an. Tidak ada yang tidak diatur dalam Islam. Keseluruhan ajaran islam bersifat integral dan saling berkaitan satu dan lainnya.
Islam juga merupakan ajaran yang hanya diakui oleh Allah SWT. Selainnya tidak diterima dan tidak pernah ada paksaan untuk mengikutinya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...” (QS. Ali Imran : 19)
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat...” (QS. Al Baqarah : 256)
2.Ada apa dengan Sholat
Di seluruh dunia, tidak ada ajaran yang luar biasa mengingatkan penganutnya untuk tetap konsisten dalam kebaikan seperti Islam. Eperti rangkaian aktivitas luar biasa sebelum kita melakukan Sholat. Yaitu: wudhuk, azan dan Iqomah. Dengan aktivitas wudhuk yang benar, maka seluruh anggota tubuh kita dibersihkan dari dosa-dosa kecil. Tubuh juga menjadi segar dan tetap fit. Selain itu badan, pakaian juga mesti bersih dari barang-barang yang haram maupun syubhat, dari najis dan kotoran. Karena kita akan berkomunikasi dengan sang Pemilik Alam semesta: Allah ‘Azza wa jalla.
Selain itu, kita diingatkan dengan azan sebelum sholat. Azan menguatkan kalimah syahadat sehingga disunnahkan kita mengulang apa yang disuarakan muazzin atau bilal saat azan, agar kita juga mendapatkan kebaikan yang sama dengan muazzin.
Untuk seorang muslim, dua kalimah syahadat kita ulang sebanyak:
Deskripsi Jumlah Diulang Total
Azan 2 5X 10
Sholat Wajib Subuh: 2, Zuhur: 2, Ashar: 2, Maghrib: 2, Isya: 2 1X 10
Iqomat 5 1X 5
Total 25
Semakin banyak kita melaksanakan sholat sunat lainnya, maka semakin banyak penguatan kalimah syahadat yang kita lakukan sehingga pondasi Islam kita akan semakin kokoh. Sebaliknya, semakin sedikit kita ucapkan, maka kalimah syahadat akan semakin melemah. Bahkan bisa jadi akan hilang. Na’udzubillahi min dzalik.
Selain itu, sebelum sholat maka dilakukan iqomat. Apa kandungan hikmah luar biasanya? Ingatlah bahwa saat kita dilahirkan, kita diazankan ditelinga kanan dan diiqomatkan ditelinga kiri. Kemudian, saat kita meninggal, kita akan disholatkan. Nah, rangkaian hidup kita sebenarnya hanyalah sepanjang waktu antara azan dan sholat. Yaitu iqomat. Sungguh sangat singkat!
Wajar kiranya sholat menjadi pembeda antara Muslim dan non-Muslim. Sholat juga merupakan kunci Syurga. Selain itu, sholat juga merupakan ibadah utama.
“...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-badah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
3.Mengapa Riadhus Sholihin
Riadhus sholihin adalah riwayat hidup orang-orang yang sholih yang telah mendahului kita dan telah membuktikan bagaimana kontribusi mereka pada Islam, dakwah dan kebaikan pada Ummat manusia didunia ini.
Riadhus sholihin utama, tentunya adalah riwayat kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yang kita kenal dengan As Sunnah. Yang merupakan panduan mengarungi kehidupan agar dapat mencapai prestasi-prestasi kehidupan untuk dapat hidup kekal nan abadi di akhirat kelak.
Peran apapun yang ingin kita lakukan, contohlah Rasulullah SAW karena ia merupakan manusia teladan sepanjang zaman. Karena peran luar biasanya dalam mengajak manusia ke jalan Allah, menyeru manusia pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21)
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)
Sadar atau tidak, kita merupakan umat terbaik bagi manusia ini. Dengan syarat, kita mau menjadi da’i dengan meniti jalan dakwah yang menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta benar-benar beriman kepada Allah, walau apapun profesi, keahlian dan pendidikan kita.
Dakwah harus bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia melaju di jalan Allah swt untuk para da’i.
Tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, tidak menghendaki imbalan serta ucapan terima kasih.
Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Allah SWT yang telah menciptakan
4.Kenapa harus Al Qur’an
Karena Al Qur'an merupakan sumber hukum terbaik yang ada di dunia. Selain itu, Allah juga sampaikan dengan jelas dalam Al Qur’an secara langsung. Dalam surat Al Baqarah: 2-20 sekaligus pembagian manusia:
1. Manusia Bertaqwa (4 ayat)
(2) Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
2. Manusia Kafir (2 ayat)
(6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
(7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
3. Manusia Munafiq (13 Ayat)
(8) Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
(9) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
(10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(13) Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".
(15) Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
(17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(19) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
(20) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
5. Ada apa dengan Masjid
Kita mungkin sudah ratusan kali masuk keluar masjid. Namun, banyak yang menjadikan kunjungan ke masjid hanya rutinitas belaka. Tanpa makna dan arti apa-apa. Hanya sekedar menjalankan kewajiban. Ketahuilah, bahwa Masjid memiliki nilai luar biasa, diantaranya:
1.Rumah Allah, sehingga siapa yang masuk kedalamnya akan dijamu oleh-Nya.
2.Pusat kebaikan, sehingga orang-orang yang memasukinya akan merasa tentram dan tenang.
3.Pusat peradaban, buktinya bisa kita lihat hingga sekarang.
4.Pusat pertemuan, dalam waktu-waktu sholat, pernikahan, bahkan juga ibadah haji.
5.Pusat ukhuwah dan persatuan
6. Pentingnya Ihsan
Saat ini, kita sangat susah mendapatkan orang-orang yang bisa dipercaya. Apalagi kalau berkaitan dengan uang dan organisasi (kecil, menengah, maupun besar). Apalagi yang berada dilevel pimpinan. Tentu, minimal sekali menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Salah satu solusi untuk permasalahan kepemimpinan yang demikian komplek saat sekarang ini adalah mencari orang-orang yang ihsan.
Apa itu ihsan? Malaikat Jibril menrangkan kepada Rasulullah SAW bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau dilihat oleh-Nya, walaupun engkau tidak bisa melihat-Nya.
Sederhananya, ihsan adalah seorang manusia yang merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap niat dan aktivitas apapun yang dikerjakannya. Sehingga, tidak akan pernah ia berlaku curang, sombong, apalagi berlaku dzalim.
7. Tumbuhkan sifat Rahmah
Seorang da’i atau pun seorang Muslim perlu menumbuhkan sifat Rahmah atau kasih sayang karena sesama Muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Karena satu keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa.
Kasih sayang yang luar biasa seperti ungkapan berikut ini:
Kami lebih cintai Umat dari pada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami senang gugur sebagai penebus kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemulian agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.
Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan, dan pasrah pada keputusasaan.
Sungguh, kami berbuat dijalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.
Kami milik kalian saudara-saudara tercinta, bukan orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh.
Sikap ini karena kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami.
8. Segeralah Beramal
Melakukan amal-amal kebaikan harus segera dilakukan, karena kita tidak tahu kapan kita akan kembali pada Allah SWT. Alangkah ruginya kita, bila saat dipanggil Allah SWT kita tidak memiliki amalan kebaikan yang bayak. Sehingga sengsara dan azab yang akan kita dapatkan.
Bila kita pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka bersegera pula untuk bertobat.
9. Raih Jannah tertinggi
Karena kita semua tentu ingin menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Bukankah sah-sah saja kita berkeinginan untuk meraih Syurga tertinggi sehingga bertemu para Nabi dan Rasul serta orang-orang terbaik yang pernah hidup dahulu kala maupun dimasa yang akan datang?
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi penghuni Syurga tertinggi. Yaitu Syurga Firdaus. Amin.
Penutup
Bulan Rajab yang didalamnya ada momentum Isra' Mi'raj merupakan pintu menuju bulan-bulan mulia lainnya. Yaitu bulan Sya'ban dan Ramadhan. Mulailah sejak saat ini kita berdoa agar kita tetap hidup dan masih dapat melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah dibulan utama seperti bulan Ramadhan. Agar perbekalan kita untuk pulang kembali pada Allah SWT benar-benar cukup untuk menyelamatkan hidup kita dunia dan akhirat.
Mahasiswa Master of Management International Islamic University Malaysia (IIUM)
Disampaikan Pada 'Celebration of Isra' Mi'raj' Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM) cabang IIUM sekaligus silaturrahim dengan PMRM Pusat dan PPI-IIUM, Ahad, 3 Agustus 2008
Pendahuluan
Peringatan Isra’ Mi’raj sudah sering kita peringati. Kalau dihitung sejak pertama kali kita ikuti waktu kecil dulu hingga sekarang, mungkin sudah puluhan jumlahnya. Namun hingga saat ini bisa jadi kita mengikuti Isra’ Mi’raj hanya sekedar rutinitas tanpa pernah menangkap hikmah luar biasa dibaliknya. Maka, kiranya perlu kita gali secara mendalam hikmah luar biasa momentum Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam sembilan kata yaitu: (1) Islam, (2)Sholat, (3)Riadhus Sholihin, (4)Al Qur’an, (5)Masjid, (6)Ihsan, (7)Rahmah, (8) Amal, (9)Jannah.
1.Kenapa Kita Islam
Dalam hidup ini, tidak ada ajaran apapun didunia ini yang luar biasa menyampaikan dengan jelas dan terang tentang Islam. Islam adalah ajaran yang dibangun dengan pondasi dua kalimah syahadat yang mengakui sepenuh hati bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah semata dan untuk itu kita mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang dengan keteladanannya kita memiliki contoh nyata dalam seluruh aspek kehidupan untuk meraih keselamatan hidup didunia dan akhirat.
“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:205)
Islam adalah ibadah dan negara, perdamaian dan akhlak, politik dan ekonomi, kilatan pedang dan Al Qur’an. Tidak ada yang tidak diatur dalam Islam. Keseluruhan ajaran islam bersifat integral dan saling berkaitan satu dan lainnya.
Islam juga merupakan ajaran yang hanya diakui oleh Allah SWT. Selainnya tidak diterima dan tidak pernah ada paksaan untuk mengikutinya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...” (QS. Ali Imran : 19)
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat...” (QS. Al Baqarah : 256)
2.Ada apa dengan Sholat
Di seluruh dunia, tidak ada ajaran yang luar biasa mengingatkan penganutnya untuk tetap konsisten dalam kebaikan seperti Islam. Eperti rangkaian aktivitas luar biasa sebelum kita melakukan Sholat. Yaitu: wudhuk, azan dan Iqomah. Dengan aktivitas wudhuk yang benar, maka seluruh anggota tubuh kita dibersihkan dari dosa-dosa kecil. Tubuh juga menjadi segar dan tetap fit. Selain itu badan, pakaian juga mesti bersih dari barang-barang yang haram maupun syubhat, dari najis dan kotoran. Karena kita akan berkomunikasi dengan sang Pemilik Alam semesta: Allah ‘Azza wa jalla.
Selain itu, kita diingatkan dengan azan sebelum sholat. Azan menguatkan kalimah syahadat sehingga disunnahkan kita mengulang apa yang disuarakan muazzin atau bilal saat azan, agar kita juga mendapatkan kebaikan yang sama dengan muazzin.
Untuk seorang muslim, dua kalimah syahadat kita ulang sebanyak:
Deskripsi Jumlah Diulang Total
Azan 2 5X 10
Sholat Wajib Subuh: 2, Zuhur: 2, Ashar: 2, Maghrib: 2, Isya: 2 1X 10
Iqomat 5 1X 5
Total 25
Semakin banyak kita melaksanakan sholat sunat lainnya, maka semakin banyak penguatan kalimah syahadat yang kita lakukan sehingga pondasi Islam kita akan semakin kokoh. Sebaliknya, semakin sedikit kita ucapkan, maka kalimah syahadat akan semakin melemah. Bahkan bisa jadi akan hilang. Na’udzubillahi min dzalik.
Selain itu, sebelum sholat maka dilakukan iqomat. Apa kandungan hikmah luar biasanya? Ingatlah bahwa saat kita dilahirkan, kita diazankan ditelinga kanan dan diiqomatkan ditelinga kiri. Kemudian, saat kita meninggal, kita akan disholatkan. Nah, rangkaian hidup kita sebenarnya hanyalah sepanjang waktu antara azan dan sholat. Yaitu iqomat. Sungguh sangat singkat!
Wajar kiranya sholat menjadi pembeda antara Muslim dan non-Muslim. Sholat juga merupakan kunci Syurga. Selain itu, sholat juga merupakan ibadah utama.
“...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-badah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)
3.Mengapa Riadhus Sholihin
Riadhus sholihin adalah riwayat hidup orang-orang yang sholih yang telah mendahului kita dan telah membuktikan bagaimana kontribusi mereka pada Islam, dakwah dan kebaikan pada Ummat manusia didunia ini.
Riadhus sholihin utama, tentunya adalah riwayat kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yang kita kenal dengan As Sunnah. Yang merupakan panduan mengarungi kehidupan agar dapat mencapai prestasi-prestasi kehidupan untuk dapat hidup kekal nan abadi di akhirat kelak.
Peran apapun yang ingin kita lakukan, contohlah Rasulullah SAW karena ia merupakan manusia teladan sepanjang zaman. Karena peran luar biasanya dalam mengajak manusia ke jalan Allah, menyeru manusia pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21)
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)
Sadar atau tidak, kita merupakan umat terbaik bagi manusia ini. Dengan syarat, kita mau menjadi da’i dengan meniti jalan dakwah yang menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta benar-benar beriman kepada Allah, walau apapun profesi, keahlian dan pendidikan kita.
Dakwah harus bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia melaju di jalan Allah swt untuk para da’i.
Tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, tidak menghendaki imbalan serta ucapan terima kasih.
Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Allah SWT yang telah menciptakan
4.Kenapa harus Al Qur’an
Karena Al Qur'an merupakan sumber hukum terbaik yang ada di dunia. Selain itu, Allah juga sampaikan dengan jelas dalam Al Qur’an secara langsung. Dalam surat Al Baqarah: 2-20 sekaligus pembagian manusia:
1. Manusia Bertaqwa (4 ayat)
(2) Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
2. Manusia Kafir (2 ayat)
(6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
(7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
3. Manusia Munafiq (13 Ayat)
(8) Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
(9) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
(10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(13) Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".
(15) Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
(17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(19) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
(20) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
5. Ada apa dengan Masjid
Kita mungkin sudah ratusan kali masuk keluar masjid. Namun, banyak yang menjadikan kunjungan ke masjid hanya rutinitas belaka. Tanpa makna dan arti apa-apa. Hanya sekedar menjalankan kewajiban. Ketahuilah, bahwa Masjid memiliki nilai luar biasa, diantaranya:
1.Rumah Allah, sehingga siapa yang masuk kedalamnya akan dijamu oleh-Nya.
2.Pusat kebaikan, sehingga orang-orang yang memasukinya akan merasa tentram dan tenang.
3.Pusat peradaban, buktinya bisa kita lihat hingga sekarang.
4.Pusat pertemuan, dalam waktu-waktu sholat, pernikahan, bahkan juga ibadah haji.
5.Pusat ukhuwah dan persatuan
6. Pentingnya Ihsan
Saat ini, kita sangat susah mendapatkan orang-orang yang bisa dipercaya. Apalagi kalau berkaitan dengan uang dan organisasi (kecil, menengah, maupun besar). Apalagi yang berada dilevel pimpinan. Tentu, minimal sekali menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Salah satu solusi untuk permasalahan kepemimpinan yang demikian komplek saat sekarang ini adalah mencari orang-orang yang ihsan.
Apa itu ihsan? Malaikat Jibril menrangkan kepada Rasulullah SAW bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau dilihat oleh-Nya, walaupun engkau tidak bisa melihat-Nya.
Sederhananya, ihsan adalah seorang manusia yang merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap niat dan aktivitas apapun yang dikerjakannya. Sehingga, tidak akan pernah ia berlaku curang, sombong, apalagi berlaku dzalim.
7. Tumbuhkan sifat Rahmah
Seorang da’i atau pun seorang Muslim perlu menumbuhkan sifat Rahmah atau kasih sayang karena sesama Muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Karena satu keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa.
Kasih sayang yang luar biasa seperti ungkapan berikut ini:
Kami lebih cintai Umat dari pada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami senang gugur sebagai penebus kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemulian agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.
Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan, dan pasrah pada keputusasaan.
Sungguh, kami berbuat dijalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.
Kami milik kalian saudara-saudara tercinta, bukan orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh.
Sikap ini karena kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami.
8. Segeralah Beramal
Melakukan amal-amal kebaikan harus segera dilakukan, karena kita tidak tahu kapan kita akan kembali pada Allah SWT. Alangkah ruginya kita, bila saat dipanggil Allah SWT kita tidak memiliki amalan kebaikan yang bayak. Sehingga sengsara dan azab yang akan kita dapatkan.
Bila kita pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka bersegera pula untuk bertobat.
9. Raih Jannah tertinggi
Karena kita semua tentu ingin menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Bukankah sah-sah saja kita berkeinginan untuk meraih Syurga tertinggi sehingga bertemu para Nabi dan Rasul serta orang-orang terbaik yang pernah hidup dahulu kala maupun dimasa yang akan datang?
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi penghuni Syurga tertinggi. Yaitu Syurga Firdaus. Amin.
Penutup
Bulan Rajab yang didalamnya ada momentum Isra' Mi'raj merupakan pintu menuju bulan-bulan mulia lainnya. Yaitu bulan Sya'ban dan Ramadhan. Mulailah sejak saat ini kita berdoa agar kita tetap hidup dan masih dapat melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah dibulan utama seperti bulan Ramadhan. Agar perbekalan kita untuk pulang kembali pada Allah SWT benar-benar cukup untuk menyelamatkan hidup kita dunia dan akhirat.
Sabtu, Agustus 02, 2008
BERANI GAGAL
Oleh: Ade Chandra*
Master of Management di International Islamic University Malaysia (IIUM) batch 14
Anggota ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) di IIUM
Dalam menjalani kehidupan pasti kita pernah mengalami kegagalan. Apakah gagal masuk perguruan tinggi, gagal untuk menikah, gagal naik jabatan atau gagal menjadi pemenang dalam suatu pertandingan. Pokoknya macam-macam jenis kegagalan yang tentunya berbeda-beda diantara kita.
Kegagalan ternyata bukanlah petaka bagi kita. Tapi kegagalan adalah bagian penyiapan diri kita oleh Allah untuk bisa merasakan nikmatnya sukses.
Sehingga saat kita sukses, kita tidak menjadi besar kepala lantaran kesuksesan yang kita raih. Tapi semakin cemerlang dengan kerendahan hati, karena kita telah merasakan pahitnya kegagalan.
Kegagalan ibarat proses seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Berkali-kali ia jatuh, terpeleset, terbentur bahkan luka dan menangis. Tapi ia tidak pernah berhenti mencoba walau berkali-kali gagal. Bahkan kegagalan yang ia alami menyebabkan kakinya makin kuat. Langkahnya makin tegap dan mentalnya makin teruji.
Saat ia bisa mengatasi itu semua, ia pun bisa berjalan. Bahkan bisa berlari menempuh jarak ratusan kilometer.
Orang yang semakin besar kegagalan yang ia hadapi. Terus berani menjalaninya, maka tunggulah manisnya kesuksesan yang Allah subhanahu wata’ala persiapkan.
Orang yang berani gagal. Akan lebih berani lagi menjalani kesuksesan. Dan kesuksesan terbesar adalah saat kita tidak melupakan proses kegagalan yang telah kita jalani.
MC, 2 Agustus 2008
Master of Management di International Islamic University Malaysia (IIUM) batch 14
Anggota ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) di IIUM
Dalam menjalani kehidupan pasti kita pernah mengalami kegagalan. Apakah gagal masuk perguruan tinggi, gagal untuk menikah, gagal naik jabatan atau gagal menjadi pemenang dalam suatu pertandingan. Pokoknya macam-macam jenis kegagalan yang tentunya berbeda-beda diantara kita.
Kegagalan ternyata bukanlah petaka bagi kita. Tapi kegagalan adalah bagian penyiapan diri kita oleh Allah untuk bisa merasakan nikmatnya sukses.
Sehingga saat kita sukses, kita tidak menjadi besar kepala lantaran kesuksesan yang kita raih. Tapi semakin cemerlang dengan kerendahan hati, karena kita telah merasakan pahitnya kegagalan.
Kegagalan ibarat proses seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Berkali-kali ia jatuh, terpeleset, terbentur bahkan luka dan menangis. Tapi ia tidak pernah berhenti mencoba walau berkali-kali gagal. Bahkan kegagalan yang ia alami menyebabkan kakinya makin kuat. Langkahnya makin tegap dan mentalnya makin teruji.
Saat ia bisa mengatasi itu semua, ia pun bisa berjalan. Bahkan bisa berlari menempuh jarak ratusan kilometer.
Orang yang semakin besar kegagalan yang ia hadapi. Terus berani menjalaninya, maka tunggulah manisnya kesuksesan yang Allah subhanahu wata’ala persiapkan.
Orang yang berani gagal. Akan lebih berani lagi menjalani kesuksesan. Dan kesuksesan terbesar adalah saat kita tidak melupakan proses kegagalan yang telah kita jalani.
MC, 2 Agustus 2008
Langganan:
Postingan (Atom)