Diriku Apa Adanya

Foto saya
Indonesia
Only new-born human to develop potencies optimum 100% and to give multi-purposes internationally

Minggu, Oktober 05, 2014

Fatwa DSN No.01 tentang Giro

FATWA
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
NO: 01/DSN-MUI/IV/2000
Tentang
G I R O


Dewan Syari’ah Nasional setelah

Menimbang  :
a.  bahwa  keperluan  masyarakat  dalam  peningkatan  kesejahteraan
dan  dalam  bidang  investasi,  pada  masa  kini,  memerlukan  jasa
perbankan;  dan  salah  satu  produk  perbankan  di  bidang
penghimpunan dana dari masyarakat adalah giro, yaitu simpanan
dana  yang  penarikannya  dapat  dilakukan  setiap  saat  dengan
penggunaan  cek,  bilyet  giro,  sarana  perintah  pembayaran
lainnya, atau dengan pemindahbukuan;
b.  bahwa  kegiatan  giro  tidak  semuanya  dapat  dibenarkan  oleh
hukum Islam (syari’ah);
c.  bahwa  oleh  karena  itu,  Dewan  Syari’ah  Nasional  (DSN)
memandang  perlu  menetapkan  fatwa  tentang  bentuk-bentuk
mu’amalah  syar’iyah  untuk  dijadikan  pedoman  dalam
pelaksanaan giro pada bank syari’ah.

Mengingat  :

    1.  Firman Allah QS. al-Nisa’ [4]: 29:

“Hai  orang  yang  beriman!  Janganlah  kalian  saling  memakan
(mengambil)  harta  sesamamu  dengan  jalan  yang  batil,  kecuali
dengan  jalan  perniagaan  yang  berlaku  dengan  sukarela  di
antaramu…”.

    2.  Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 283:

  “…Maka,  jika sebagian kamu  mempercayai sebagian yang lain,
hendaklah  yang  dipercayai  itu  menunaikan  amanatnya  dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya…”.

    3.  Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1:
         “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu …”.
 
    4.  Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 2:

“dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan….”

5.  Hadis Nabi riwayat al-Thabrani:
“Abbas  bin  Abdul  Muthallib  jika  menyerahkan  harta  sebagai
mudharabah,  ia  mensyaratkan  kepada   mudharib -nya agar tidak
mengarungi  lautan  dan  tidak  menuruni  lembah,  serta  tidak
membeli  hewan  ternak.  Jika  persyaratan  itu  dilanggar,  ia
( mudharib )  harus  menanggung  resikonya.  Ketika  persyaratan
yang  ditetapkan  Abbas  itu  didengar  Rasulullah,  beliau
membenarkannya”  (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

6.  Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah:

“Nabi  bersabda,  ‘Ada  tiga  hal  yang  mengandung  berkah:  jual
beli  tidak  secara  tunai,  muqaradhah  (       mudharabah ),  dan
mencampur  gandum  dengan  jewawut  untuk  keperluan  rumah
tangga, bukan untuk dijual.’”  (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

7.  Hadis Nabi riwayat Tirmidzi:

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan
yang  haram;  dan  kaum  muslimin  terikat  dengan  syarat-syarat
mereka  kecuali  syarat  yang  mengharamkan  yang  halal  atau
menghalalkan yang haram”  (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).

8.  Ijma.  Diriwayatkan,  sejumlah  sahabat  menyerahkan  (kepada
orang,  mudharib )  harta  anak  yatim sebagai  mudharabah  dan  tak
ada  seorang  pun  mengingkari  mereka.  Karenanya,  hal  itu
dipandang  sebagai  ijma’  (Wahbah Zuhaily,  al-Fiqh  al-Islami  wa
Adillatuhu,  1989, 4/838).

9.  Qiyas.  Transaksi   mudharabah , yakni  penyerahan  sejumlah harta
(dana,  modal)  dari  satu  pihak  ( malik,  shahib  al-mal )  kepada
pihak  lain      (‘amil,  mudharib )  untuk  diperniagakan
(diproduktifkan)  dan  keuntungan  dibagi  di antara mereka sesuai
kesepakatan, diqiyaskan kepada transaksi  musaqah .

10.  Kaidah fiqh:
“Pada  dasarnya,  semua  bentuk  muamalah  boleh  dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

11.  Para  ulama  menyatakan,  dalam  kenyataan  banyak  orang  yang
mempunyai  harta  namun  tidak  mempunyai  kepandaian  dalam
usaha  memproduktifkannya,  sementara  itu  tidak  sedikit  pula
orang  yang  tidak  memiliki  harta  namun  ia  mempunyai
kemampuan  dalam  memproduktifkannya.  Oleh  karena  itu,
diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut.
Memperhatikan  :   Pendapat  peserta  Rapat  Pleno  Dewan  Syari'ah  Nasional  pada  hari
Sabtu, tanggal 26 Dzulhijjah 1420 H./1 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan  :  FATWA TENTANG GIRO

Pertama   :  Giro ada dua jenis:
1.  Giro  yang  tidak  dibenarkan  secara  syari’ah,  yaitu  giro  yang
berdasarkan perhitungan bunga.
2.  Giro  yang  dibenarkan  secara  syari’ah,  yaitu  giro  yang
berdasarkan prinsip  Mudharabah  dan  Wadi’ah .


Kedua   :  Ketentuan Umum Giro berdasarkan Mudharabah :
1.  Dalam  transaksi  ini  nasabah  bertindak  sebagai        shahibul  maal
atau  pemilik  dana,  dan  bank  bertindak  sebagai      mudharib   atau
pengelola dana.
2.  Dalam  kapasitasnya  sebagai   mudharib ,  bank  dapat  melakukan
berbagai  macam  usaha  yang  tidak  bertentangan  dengan  prinsip
syari’ah  dan  mengembangkannya,  termasuk  di  dalamnya
mudharabah dengan pihak lain.
3.  Modal  harus  dinyatakan  dengan  jumlahnya,  dalam  bentuk  tunai
dan bukan piutang.
4.  Pembagian  keuntungan  harus  dinyatakan  dalam  bentuk  nisbah
dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
5.  Bank  sebagai  mudharib  menutup  biaya  operasional  giro dengan
menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
6.  Bank  tidak  diperkenankan  mengurangi  nisbah  keuntungan
nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.



Ketiga   :  Ketentuan Umum Giro berdasarkan Wadi’ah :
1.  Bersifat titipan.
2.  Titipan bisa diambil kapan saja ( on call ).
3.  Tidak  ada  imbalan  yang  disyaratkan,  kecuali  dalam  bentuk
pemberian ( ‘athaya ) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

    Ditetapkan di  : Jakarta
    Tanggal  : 26 Dzulhijjah 1420 H. 
                      1   April         2000 M


DEWAN SYARI’AH NASIONAL
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,                                                       Sekretaris,


Prof. KH. Ali Yafie                                  Drs. H.A. Nazri Adlani

Sabtu, Agustus 23, 2008

SELEMBAR CEK

Di sebuah keluarga, tinggallah seorang ayah dengan putra tunggalnya yang sebentar lagi lulus dari perguruan tinggi. Sang ibu beberapa tahun yang lalu telah meninggal dunia. Mereka berdua memiliki kesamaan minat yakni mengikuti perkembangan produk otomotif.

Suatu hari, saat pameran otomotif berlangsung, mereka berdua pun ke sana. Melihat sambil berandai-andai. Seandainya tabungan si ayah mencukupi, kira-kira mobil apa yang sesuai budget yang akan di beli. Sambil bersenda gurau, sepertinya sungguh-sungguh akan membeli mobil impian mereka.

Menjelang hari wisuda, diam-diam si anak menyimpan harapan dalam hati, "Mudah-mudahan ayah membelikan aku mobil, sebagai hadiah kelulusanku. Setelah lulus, aku pasti akan memasuki dunia kerja. Dan alangkah hebatnya bila saat mulai bekerja nanti aku bisa berkendara ke kantor dengan mobil baru," harapnya dengan senang. Membayangkan dirinya memakai baju rapi berdasi, mengendarai mobil ke kantor.

Saat hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah kitab suci di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. "Bukannya aku tidak menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi kotak itu adalah kunci mobil," ucapnya dalam hati sambil menaruh kitab suci kembali ke kotaknya.

Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja di kota besar. Si ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan sakit-sakitan, tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan kepada putranya.

Setelah masa berkabung selesai, saat sedang membereskan barang-barang, mata si anak terpaku melihat kotak kayu hadiah wisudanya yang tergeletak berdebu di pojok lemari. Dia teringat itu hadiah ayahnya saat wisuda yang diabaikannya. Perlahan dibersihkannya kotak penutup, dan untuk pertama kalinya kitab suci hadiah pemberian si ayah dibacanya.

Saat membaca, tiba-tiba sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab suci. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata isinya selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil yang diinginkan dan tertera tanggalnya persis pada hari wisudanya.

Sambil berlinang airmata, dia pun tersadar. Terjawab sudah, kenapa mobil kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga mobil yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia pun bersimpuh dengan memanjatkan doa, "Ayah maafkan anakmu yang tidak menghargai hadiahmu �. Walau terlambat, hadiah Ayah telah kuterima�� Terima kasih Ayah.. Semoga Ayah berbahagia di sisiNYA, amin".

Tidak jarang para orang tua memberi perhatian dengan alasan dan caranya masing-masing. Tetapi dalam kenyataan hidup, karena kemudaan usia anak dan emosi yang belum dewasa, seringkali terjadi kesalahfahaman pada anak dalam menerjemahkan perhatian orang tua.

Jangan cepat menghakimi sekiranya harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya tidak menjadikan kita manja hingga selalu menuntut permintaan.

Mari belajar menjadi anak yang pandai menghargai setiap perhatian orang tua.

Demikian dari saya
Salam sukses luar biasa!!!!
Andrie Wongso

KEKUATAN BEKERJA

Oleh: Eni Kusuma

Konon, orang-orang bijak Yunani mengobati orang yang ditimpa keresahan, kesuntukan, kesedihan dan penyakit psikologis lainnya dengan memaksanya bekerja di ladang dan kebun. Hasilnya, hanya beberapa waktu kemudian, si pasien telah kembali sehat dan mendapatkan ketenangan.

Saya pikir itulah kekuatan dari bekerja. Kita lebih bahagia dan tenteram karena bekerja membuat pikiran kita bebas, tidak terbebani, juga fisik kita menjadi kuat. Jika dibandingkan dengan mereka yang menganggur di rumah, tidak melakukan kegiatan apa-apa selain bermalas-malasan. Mereka kerap terjangkit penyakit psikologis dari yang ringan sampai kronis. Awalnya mungkin mudah tersinggung terhadap perkataan-perkataan anggota keluarga ataupun orang lain sampai akhirnya tidak percaya diri sehingga bisa membuatnya menarik diri dari peredaran. Jika ini dibiarkan, maka akan semakin sulit dicarikan jalan keluarnya. Meskipun bukan tidak mungkin bisa dinormalkan seperti sedia kala. Karena segala sesuatu terjadi karena sebuah kebiasaan.

Contohnya, seorang sarjana yang menganggur karena tidak diterima kerja. Semua daya dan upaya telah dikerahkan untuk mencari pekerjaan. Namun hasilnya nihil. Dia malu karena menganggur. Sarjana kok nganggur, begitu pikirnya. Apalagi biaya kuliahnya dulu ditanggung oleh kakaknya. Lagi pula dia laki-laki yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga. Mula-mula ia malu kemudian berkembang menjadi malu-maluin. Yaitu dengan mengurung diri di kamar tanpa kegiatan, pendiam, dan menarik diri dari pergaulan.

Masalahnya di sini hanya satu, yaitu dia gengsi atau malu karena ia sarjana tapi menganggur. Seandainya ia tidak gengsi dan malu, ia tidak akan punya beban pikiran yang akan menghambat kesuksesannya. Ia bisa bekerja apa saja sebagai awal dari pembelajarannya sebelum menemukan apa yang ia inginkan. Dengan bekerja, maka beban akan hilang.



Seperti halnya saya. Dulu saya pernah ditanya oleh teman SMA. Apa? Pembantu? Begitu responnya ketika saya jawab bekerja sebagai pembantu. Memang sih, lingkungan tempat kita berada bisa menjadi lebih kejam dan mampu mengubah diri kita menjadi seorang psikopat. Mengapa musti malu dan gengsi? Jika peluang sementara pekerjaan yang saya dapat waktu itu hanya menjadi seorang pembantu, kenapa enggak? Jika saya memiliki potensi penampilan yang tidak bisa membuat orang mempertanyakan dan membahasnya lebih lanjut oh, itu lain lagi hehehe. Karena, hal lain seperti kemampuan adalah sesuatu yang bisa dipelajari.

Saya bekerja dan bekerja. Benar saja, pikiran saya bisa bebas sebebas-bebasnya. Sehingga, saya bisa menemukan sebuah potensi lain dalam diri saya yang bisa dikembangkan. Bisakah seseorang menemukan potensi yang ada dalam dirinya sementara ia terbebani oleh bermacam-macam pikiran yang semrawut? Saya tidak yakin.

So, tidak perlu merasa sedih jika ditolak bekerja kantoran karena penampilan. Dan tidak perlu gengsi jika harus bekerja menjadi tukang cuci piring. Bekerja sambil belajar dan be a smart!!

Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, motivator, dan penulis buku bestseller Anda Luar Biasa!!!

BERSYUKUR DAN BERJUANG

Alkisah, di beranda belakang sebuah rumah mewah, tampak seorang anak sedang berbincang dengan ayahnya. "Ayah, nenek dulu pernah bercerita kepadaku bahwa kakek dan nenek waktu masih muda sangat miskin, tidak punya uang sehingga tidak bisa terus menyekolahkan ayah. Ayah pun harus bekerja membantu berjualan kue ke pasar-pasar."Apa betul begitu, Yah?" tanya sang anak.

Sang ayah kemudian bertanya, "Memang begitulah keadaannya, Nak. Mengapa kau tanyakan hal itu anakku?"

Si anak menjawab, "Aku membayangkan saja ngeri, Yah. Lantas, apakah Ayah pernah menyesali masa lalu yang serba kekurangan, sekolah rendah dan susah begitu?"

Sambil mengelus sayang putranya, ayah menjawab, "Tidak Nak, ayah tidak pernah menyesalinya dan tidak akan mau menukar dengan apa pun masa lalu itu. Bahkan, ayah mensyukurinya. Karena, kalau tidak ada penderitaan seperti itu, mungkin ayah tidak akan punya semangat untuk belajar dan bekerja, berjuang, dan belajar lagi, hingga bisa berhasil seperti saat ini."

Mendapat jawaban demikian, si anak melanjutkan pertanyaannya, "Kalau begitu, aku tidak mungkin sukses seperti Ayah, dong?"

Heran dengan pemikiran anaknya, sang ayah kembali bertanya, "Kenapa kau berpikir tidak bisa sukses seperti ayah?"

"Lho, kata Ayah tadi, penderitaan masa lalu yang serba susahlah yang membuat Ayah berhasil. Padahal, aku dilahirkan dalam keluarga mampu, kan ayahku orang sukses," ujar si anak sambil menatap bangga ayahnya. "Ayah tidak sekolah tinggi, sedangkan Ayah menyuruhku kalau bisa sekolah sampai S2 dan menguasai 3 bahasa, Inggris, Mandarin, dan IT. Kalau aku ingin sukses seperti Ayah kan nggak bisa, dong. Kan aku nggak susah seperti Ayah dulu?"

Mengetahui pemikiran sang anak, ayah pun tertawa. "Hahaha, memang kamu mau jadi anak orang miskin dan jualan kue?" canda ayah.

Digoda sang ayah, si anak menjawab, "Yaaaah, kan udah nggak bisa memilih. Tapi kayaknya kalau bisa memilih pun, aku memilih seperti sekarang saja deh. Enak sih, punya papa mama baik dan mampu seperti papa mamaku hehehe."

Sang ayah lantas melanjutkan perkataannya, "Karena itulah, kamu harus bersyukur tidak perlu susah seperti ayah dulu. Yang jelas, siapa orangtua kita dan bagaimana keadaan masa lalu itu, kaya atau miskin, kita tidak bisa memilih, ya kan? Maka, ayah tidak pernah menyesali masa lalu. Malah bersyukur pada masa lalu yang penuh dengan penderitaan, dari sana ayah belajar hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan pada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan. Yang jelas, di kehidupan ini ada hukum perubahan yang berlaku. Kita bisa merubah keadaan jika kita mau belajar, berusaha, dan berjuang habis-habisan. tuhan memberi kita segala kemampuan itu, gunakan sebaik-baiknya. Dimulai dari keadaan kita saat ini, entah miskin atau kaya. Niscaya, semua usaha kita diberkati dan kamu pun bisa sukses melebihi ayah saat ini. Ingat, teruslah berdoa serta berusaha. Belajar dan bekerjalah lebih keras dan giat. Maka, cita-citamu akan tercapai."

Pembaca yang budiman,
Pikiran manusia tidak mungkin mampu menggali dan mengetahui rahasia kebesaran Tuhan. Karena itu, sebagai manusia kita tidak bisa memilih mau lahir di keluarga kaya atau miskin. Kita juga tak bisa memilih lahir di negara barat atau di timur dan lain sebagainya.

Maka, jika kita lahir di keluarga yang kaya, kita harus mampu mensyukuri dengan hidup penuh semangat dan bersahaja. Sebaliknya, jika kita terlahir di keluarga yang kurang mampu, kita pun harus tetap menyukurinya sambil terus belajar dan berikhtiar lebih keras untuk memperoleh kehidupan lebih baik. Sebab, selama kita bisa bekerja dengan baik benar dan halal, Tuhan pasti akan membantu kita! Ingat, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, tanpa orang itu mau berusaha merubah nasibnya sendiri.

Terus berjuang, raih kesuksesan!
Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

18 Agustus 2008

Kamis, Agustus 21, 2008

Engkaulah Bidadari Sejati Itu

Dari Riwayat Sahabat Rasul

Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.

“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:

“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”

“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.

“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan

“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.

“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.

“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.”

Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”

Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”

Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”

Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.” Zulebid tersenyum.

Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.

“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.
Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”

Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama teman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya… .Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.

Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.

Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah.
Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”

“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.

“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.

“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”

Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.

Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. “ Dan hanya engkau kubiarkan yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….

MC, 21 Agustus 2008

Kamis, Agustus 14, 2008

MENCARI PEMIMPIN SEJATI

Oleh: Ade Chandra
Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia (IIUM), berdomisili di Pekanbaru, Riau.

Kepemimpinan bukanlah sebuah bakat, tapi kepemimpinan dapat diciptakan oleh lingkungan dan masyarakatnya.

Betapa tidak, sejak dimulainya pemilihan secara langsung pasangan presiden dan wakil presiden oleh rakyat Indonesia maka kini terus bergulir pemilihan pemimpin model tersebut diberbagai propinsi, kota dan kabupaten. Bahkan pelaksanaannya juga telah sampai ke tingkat RT.

Namun setelah pemimpin baru banyak yang harus meringkuk di jeruji besi karena terbukti korupsi atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Walau adakalanya kejahatan itu dilakukan sebelum terpilih memimpin rakyat didaerahnya.

Tentu hal ini merugikan bangsa dan rakyat. Karena miliaran bahkan triliunan dana terbuang hanya untuk memilih penjahat berkedok pemimpin. Bagaikan membeli kucing dalam karung.

Semestinya, calon pemimpin yang diusung partai politik tertentu beserta rakyat harus mengetahui track-record nya. Utama sekali bagi tim suksesnya. Makanya perlu kriteria-kriteria untuk menjaring calon pemimpin terbaik.

Dalam buku Modern Management, Certo (2006) menuturkan beberapa kriteria kepemimpinan hari ini, yaitu: (1)visionary, dengan memiliki kekuatan ide-ide asli untuk masa depan menuju perbaikan dan peningkatan, (2)passionate dengan bentuk kekuatan keyakinan yang dalam, (3)creative untuk menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, (4)flexible dengan mampu merubah keadaan dan kondisi berbeda-beda menjadi lebih baik, (5)inspirational sehingga orang-orang disekitarnya tergerak untuk melakukan prilaku-prilaku positif, (6)innovative dalam ide dan mengatasi berbagai persoalan, (7)courageous atau berani berkorban untuk kebaikan, (8)imaginative dalam berpikir, membuat sesuatu yang baru dan bermanfaat, (9)experimental dengan membuat dan memodifikasi sesuatu yang tidak berguna menjadi bermanfaat dan (10)independent dalam berpikir dan berbuat tanpa terpengaruh oleh apapun.

Selain itu, pemimpin perlu memiliki komitmen kebaikan dan kebermanfaatan. Hermawan Kartajaya menerangkan konsep progression of commitment value dengan empat tingkatan komitmen secara berurutan, mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.

Political commitment merupakan tingkatan terendah dengan memberikan komitmen secara terpaksa sesuai apa yang diinginkan organisasinya. Tingkatan selanjutnya intellectual commitment dengan menjalankan komitmen untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya.
Selanjutnya emotional commitment yang dilakukan sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment dengan komitmen kerja dilakukan karena sudah menjadi panggilan jiwa untuk menegakkan kebenaran yang berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin utamanya dipilih dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Yang tidak akan pernah curang dan berbuat zalim sekecil apapun kepada rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya. Karena dia tahu bahwa pengawas utamanya langsung dari sang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Yang tidak pernah tidur dan tidak pernah merasa lelah. Bisa saja pemimpin mengelabui seluruh manusia yang dipimpinnya, tapi ingat bahwa perkara tersembunyi dan tidak tuntas didunia ini, maka urusan tersebut pertanggungjawabannya nanti akan dituntaskan pada pengadilan sang Maha Adil, Allah, Penguasa alam semesta.

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al Qur’an surat Al Qiyamah ayat 36)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 18)

Kepemimpinan seyogyanya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta agar mendapat keberuntungan. Sebagai mana disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (surat Al Ma’idah ayat 35).

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (surat Al Ankabut ayat 69).

Selain itu, kepemimpinan tidak boleh dicari apalagi memintanya. Karena pertanggungjawaban kepemimpinan sunggguh berat di Hari Pembalasan nantinya.
Dalam sejarah kehidupan manusia, banyak kisah-kisah kepemimpinan yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pemimpin atau calon pemimpin.

Kisah fenomenal adalah kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Hanya dalam waktu kepemimpinan 2,5 tahun, beliau mampu mensejahterakan rakyatnya baik Muslim maupun non-muslim. Saat itu, orang-orang yang mau menyalurkan zakatnya seharian penuh berkeliling tapi tidak ada yang mau menerimanya. Karena masyarakat merasa hidup berkecukupan sehingga tidak pantas menerima zakat.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi umat Islam seluruh dunia pada saat itu, beliau termasuk orang yang kaya. Namun, ketika diangkat menjadi pemimpin, beliau segera menyalurkan seluruh hartanya ke kas negara. Yang tersisa hanya tinggal baju dibadan. Beliau juga minta diberikan gaji hanya 2 dirham sehari, yang nilainya dapat memenuhi kebutuhan makan pada hari itu juga.

Beliau juga minta kepada istrinya untuk memilih apakah tetap bersamanya dalam kondisi seperti ini atau pergi meninggalkannya secara baik-baik dengan perceraian. Beliau takut, istrinya tidak tahan dan mempengaruhi beliau kearah keburukan dan kejahatan dalam menjalankan tugas besar sebagai pemimpin umat. Istrinya menangis mendengar penyampaian seperti itu dan berkata: ”wahai suamiku, justru dalam kondisi seperti ini diriku harus berada disampingmu.”

Kepemimpinan hari ini

Kalau dibandingkan dengan pemimpin hari ini, justru kekayaannya bertambah setelah menjadi pemimpin sedangkan rakyatnya makin sengsara. Pemimpin bergelimang fasilitas sedang fasilitas rakyat dikurangi bahkan dihilangkan. Fasilitas negara dijadikan fasilitas pribadi. Rakyat diminta hidup hemat sedang pemimpin berfoya-foya bersama istri, anak, keluarga dan kroni-kroninya.

Kondisi kepemimpinan seperti ini menjadikan rakyat terzalimi. Rakyat kelaparan ditengah daerah yang kaya. Ibarat ayam mati dilumbung padi. Akibatnya, silih berganti bencana menimpa pemimpin dan daerahnya. Sehingga membuat pemimpin “pusing”, walau kadang pusing menikmati bantuan dibalik bencana.

Keberhasilan kepemimpinan dilihat diatas kertas saja melalui data-data statistik. Tanpa mau membuka mata, hati dan telinga pada rakyat disekelilingnya. Padahal banyak tetangga disamping rumah pemimpin menderita busung lapar, sulit mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Al Qur’an menerangkan dalam surat Al A’raf ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Tentu tak ada yang menginginkan pemimpin yang hanya berani menjual kekayaan negara dan daerahnya hanya dengan alasan memenuhi kekurangan anggaran “bang-saku”. Dengan alasan privatisasi dan meningkatkan kinerja. Menguras tanah dan air hanya untuk segelintir orang agar tercapai target keberhasilan kepemimpinan sesaat dan selanjutnya menyengsarakan rakyat.

Makanya, kita memerlukan pemimpin jujur, cerdas, komunikatif dan amanah. Pemimpin yang sanggup melakukan perubahan. Memberikan sebesar-besarnya multi-manfaat kepada rakyatnya tanpa pernah mengharap balas. Karena sebaik-baik balasan hanya dari sang Maha Pemberi Balasan Yang Sempurna. Dialah Allah subhanahu wata’ala.

Bagaimana dengan Anda?

MC, 14 Agustus 2008

MEMBERDAYAKAN PEDAGANG KAKI LIMA

Oleh: Ade Chandra*
*Mahasiswa Master of Management di International Islamic University Malaysia
(IIUM)Batch 14 asal Pekanbaru-Riau.
*Anggota ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesian Development) di IIUM

Pedagang Kaki Lima (PKL) nasibnya selalu fenomenal. Kehadirannya seolah “perusak” keindahan. Penggusuran mereka hampir terjadi disetiap kota-kota besar di Indonesia. Padahal dinegara-negara lain PKL menjadi bagian untuk pembangunan citra bangsa yang mandiri dan penuh keunikan.

Bila sempat berjalan-jalan ke ibukota negara jiran, Kuala Lumpur, tepatnya disekitar kawasan padat lalu lintas dekat Pasar Seni maka akan banyak dijumpai pedagang dengan gerobak dorongnya. Beraneka barang dagangan mereka jual. Mulai makanan cepat saji, buah-buahan, mainan, pakaian hingga semua aksesoris yang mempercantik penampilan. Setiap kita jalan ditempat tersebut, mereka tetap berada disana. Mereka ini kalau di Indonesia disebut PKL. Saya sempat bertanya dalam hati kenapa mereka tidak digusur. Padahal mereka bisa memperburuk pemandangan kota.

Belum lagi mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, pada malam-malam tertentu secara rutin minimal sekali seminggu juga akan kita temukan pasar malam. Beraneka dagangan dijajakan disana. Beberapa tempat yang pernah saya datangi, pengunjungnya sangat ramai sekali. Maklum harganya miring dibanding supermarket dan mall. Barang-barang yang sulit didapatkan pun juga ada disana.

Dikampus juga rutin diadakan pasar malam. Biasanya malam week-end. Kegiatan ini langsung diprakarsai oleh organisasi mahasiswa, Entrepreneurship Club. Sempat saya tanyakan pada mereka kenapa sering diadakan pasar malam dibanyak tempat di Malaysia termasuk dikampus dan kenapa pedagang dibiarkan berjualan dikawasan padat lalu lintas.

Beberapa hal penting yang mereka sampaikan membuat saya terperanjat. “Apa yang kami lakukan juga dilakukan pemerintah adalah untuk membangun semangat wirausaha dan kemandirian warga Melayu. Karena selama ini warga Melayu hanya mau bekerja sebagai kakitangan (pegawai) pemerintah saja. Sedangkan warga selain Melayu mendominasi perdagangan.” Rakyat diberikan pembinaan berkelanjutan agar tahu arti penting kedisiplinan, ketertiban, keteraturan, kebersihan dan keindahan. Selain itu, pengawasan dilakukan secara rutin. Tindakan penggusuran hanya menjadi jalan terakhir bila upaya-upaya lain tidak dapat dilakukan. Itu pun hampir tidak pernah terjadi.

Untuk mendukung program wirausaha rakyatnya, pemerintah Malaysia dan swasta berlomba-lomba memberikan bantuan secara berkelanjutan. Mulai dari kebijakan strategis, pengembangan manajemen organisasi dan kerja-kerja teknis lainnya, hingga bantuan financial diberikan. Begitu seriusnya, bahkan ada bantuan keuangan awal bagi proposal bisnis rakyatnya yang memiliki prospek untuk dimajukan. Nilainya sekitar RM20.000 atau setara dengan Rp. 58.000.000 (andai kurs 1RM = Rp. 2.900). Bila produknya sudah jadi dan memerlukan pengembangan pemasaran, maka akan dibantu lagi sama dengan jumlah uang yang disebutkan diatas.

Saya teringat dengan PKL yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Mereka sering digusur secara paksa bahkan harus merelakan gerobaknya disita dan tragisnya lagi dibakar. Alasan yang sering dikemukakan aparat pemerintah dan jajarannya adalah bahwa PKL merusak pemandangan kota. Sudah berkali-kali diperingatkan tapi tidak juga mau pindah. Padahal nyatanya pembinaan berkelanjutan sangat jarang dilakukan pada PKL. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di negara jiran.

Kita bangsa Indonesia seharusnya bangga memiliki PKL dengan semangat kemandirian luar biasa. Mereka menjadi solusi konkrit terhadap permasalahan pengangguran. Mereka berupaya eksis ditengah naiknya harga minyak dengan biaya hidup yang semakin meninggi.

Suatu kali saya bertanya dengan PKL yang sudah berdagang makanan cepat saji selama 10 tahun di kota Pekanbaru, “Bang, kenapa mau jadi PKL, kan sering kena gusur?” jawabannya membuat saya terperanjat, “Sudah panggilan jiwa, saya tidak ingin menjadi beban pemerintah. Saya ingin menjadi solusi buat bangsa ini!” jawabnya sambil tersenyum. Benar saja, beliau awalnya mempekerjakan 2 orang karyawan yang dulunya pengangguran dikampungnya dan sekarang mereka telah mandiri. Begitu terus dilakukannya tiap 2 tahun.

Jawaban ini mengingatkan saya tentang konsep progression of commitment value dengan 4 tingkatan komitmen secara berurutan. Mulai dari political commitment, intellectual commitment, emotional commitment dan spiritual commitment.

Political commitment merupakan tingkatan terendah dimana komitmen dilakukan secara terpaksa. Sedangkan tingkatan selanjutnya intellectual commitment dimana suatu komitmen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya. Emotional commitment bersifat sukarela dan tidak lagi memikirkan untung rugi. Sedangkan tingkatan tertinggi spiritual commitment yang sudah merupakan panggilan jiwa dan tidak terikat lagi dengan masalah duniawi. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya?

Saya memiliki bukti bahwa pemerintah daerah dan jajarannya ada yang telah sampai pada tahap spiritual commitment, bekerja sebagai panggilan jiwa. Saya menemukan di pinggiran Jalan Sam Ratulangi kota Pekanbaru, PKL diberikan kesempatan untuk berjualan disana. Sudah lebih dari 10 tahun. Jumlah PKL juga semakin bertambah. Mereka biasanya memenuhi pinggiran jalan untuk mulai berdagang setelah Sholat Ashar dan menutup dagangannya hingga jam 12 malam. PKL ini sangat ramah pada pembeli dan sangat menjaga kebersihan lingkungan disekitar mereka.

Bila hal seperti ini terus dikembangkan dinegeri kita tercinta, maka 10 tahun kedepan bangsa ini akan menjadi bangsa mandiri yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Namun, yang sering muncul kepermukaan adalah bahwa PKL selalu dikebiri. Padahal kita memerlukan upaya-upaya lebih baik lagi untuk menjadikan PKL sebagai kebanggaan bangsa. Bukan saja masalah pendapatan masyarakat yang semakin meningkat, juga kreatifitas dan inovasi produk dan pelayananan juga akan semakin berkembang.
Satu hal lagi, bangsa ini akan memiliki pencitraan yang baik. Penuh keunikan dan melambangkan semangat kemandirian yang tangguh.

Beberapa ide yang dapat dilakukan pemerintah maupun swasta dalam memberdayakan PKL diantaranya:
•Mencarikan lokasi yang layak terlebih dahulu sebelum PKL akan dipindahkan. Layak disini bukannya bagi pemerintah saja, tetapi juga akses kemudahan bagi pembeli sehingga transaksi perdagangan berlangsung baik.

•Membantu memberikan tempat jualan yang layak dengan mobilitas yang tinggi. Seperti dibeberapa negara para PKL nya jualan diatas mobil yang telah dimodifikasi sehingga mudah untuk jualan dimana saja.

•Membuka akses perbankan berjalan bagi PKL, sangat tepat peluang ini ditangkap oleh perbankan syariah khususnya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan lembaga keuangan syariah mikro dengan memakai konsep mudharabah (bagi hasil) maupun musyarakah. Bisa jadi sistem pengembalian dilakukan perhari atau pun perminggu. Saat PKL mulai menggelar dagangannya, modal segera diserahkan oleh bank syariah. Setelah tutup transaksinya maka modal dan keuntungan yang telah disepakati sebelumnya diserahkan PKL kembali ke bank syariah.

•Melakukan perbaikan penampilan penjual dan tempatnya, pembinaan berkelanjutan baik dari kualitas produk yang dijual, cara pelayanan kepada pelanggan maupun pencatatan keuangan sederhana. Juga melakukan pembinaan spiritual mereka. Pembinaan ini akan memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungannya.
•Memberikan penghargaan kepada PKL dengan mempekerjakan karyawan lebih dari 5 orang dan menjadi pujian bagi pelanggan dalam hal kehalalan dan kualitas produk, pelayanan, dan tempat serta ramai dikunjungi pembeli maupun wisatawan.

Nah, kerja sama yang baik antara pemerintah, swasta dan PKL tentu akan menghasilkan keuntungan juga bagi masing-masing pihak. Sisi lainnya, masyarakat juga akan lebih memilih untuk belanja pada PKL karena kualitas produk, keunikan dan harga yang pantas. Hal ini akan memberikan win-win solution dan atau win-win situation.
Kembali pada PKL dinegara jiran, ternyata banyak dari mereka berasal dari Indonesia. Bahkan diantara mereka banyak yang sudah menjadi permanent residence. “Saya mau menjadi penghasil devisa buat negara kita,” kata PKL yang berada dikampus IIUM. Karena setiap keuntungan, akan kami kirim buat sanak keluarga di tanah air. Kami pun para mahasiswa Indonesia sangat mendukung mereka. “Kita belanja pada orang Indonesia saja, agar kita juga ikut berperan dalam memberikan kontribusi bagi negara,” kata salah seorang mahasiswa kandidat doktor engineering asal Jakarta.

Ini merupakan panggilan jiwa dari ide sederhana tapi penuh kedalaman makna bila dilaksanakan secara benar dan berkelanjutan. Sudah saatnya kita bangun kemandirian bangsa dengan memberdayakan pedagang kaki lima secara tepat dan bijaksana. Agar bangsa ini tidak akan pernah tergantung lagi dari belas kasihan bangsa lain dalam bentuk utang.

Bagaimana dengan Anda?

MC, 14 Agustus 2008